Ahli Hukum Tata Negara: PKS Berkemungkinan besar Jadi Diktator

Ahli Hukum Tata Negara Menyebut PKS Berkemungkinan besar Jadi Diktator

JAKARTA – Ahli Hukum Tata Negara Asep Warlan Yusuf menilai Elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berkemungkinan besar melaksanakan kedikatoran dan pelanggaran undang-undang (UU) sebab merampas hak imunitas anggotanya di legislatif periode yang akan datang.

Hal ini disampaikan Asep terkait surat edaran dengan kop PKS bernomor 02/D/EDR/DPP-PKS/2018 yang mewajibkan bakal calon anggota DPR/DPRD (BCAD) PKS menyampaikan dokumen tambahan. Salah satunya bacaleg wajib mengisi dan menyetujui surat pengunduran diri bertanggal kosong.

Baca15 Kesamaan Antara PKS dengan PKI.

Menurut Asep, partai Nggak dapat semena-mena memecat kader yang duduk di parlemen. “Menurut saya itu bentuk kediktatoran dan menabrak UU. Menabrak sistem keparlemenan, sebab sistem parlemen kita itu pemilihannya terhadap orang bukan terhadap partai,” katanya terhadap awak media di Jakarta, sebagaimana dikutip JPNN, Selasa (03/07/2018).

Dia menyebutkan bahwa pergantian antar waktu (PAW) seorang anggota dewan cuma dapat dikerjakan kalau sudah terbukti melaksanakan pelanggaran.

“Jika dia baik-baik saja Nggak dapat diganti, prinsip PAW itu jika menabrak UU. Sebab sistem kita tertutup terbatas, maka Nggak dapat partai semena-mena memecat,” terang Asep.

BacaPKS Layak Ditenggelamkan Seperti Ikhwanul Muslimin.

Bila benar PKS memberlakukan aturan sesuai dengan surat edara tersebut, maka partai pimpinan M Sohibul Iman telah Nggak sejalan lagi dengan prinsip demokrasi.

alasannya, aturan tersebut sama halnya mengesampingkan suara rakyat. Karena, berdasarkan sistem parlemen di Indonesia, pemilihan dikerjakan terhadap orang bukan terhadap partai politik.

“Itu mengesampingkan suara rakyat, meniadakan aspirasi pemilih. Hemat saya prinsip demokrasi Nggak seperti itu. Itu memberi peluang kesewenang-wenangan partai,” pungkas Asep. [ARN]

Source by Samsul Anwar

You might like

About the Author: Samsul Anwar

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.