Adz-Dzahabi Sanad Awal Kebencian Kepada Pengikut Aqidah Asy’ariyah

Adz-Dzahabi – Selama ini kita seakan terlalu mengenal kredibilitas  Al-Hafidz  Asy-Syaikh Syamsuddin adz-Dzahabi selaku ahli sejarah dan atau penulis biografi ulama. Dengan bangga sering kita menyandarkan rujukan Biografi Ulama ke karya Adz-Dzahabi selaku referensi yang jujur.

Akan tetapi ternyata fakta lapangan sudah membantah dengan tegas bahwa ternyata Adz-Dzahabi bukan penulis biografi yang dipercaya. Rasa benci yang ada pada dirinya menyebabkan tulisan biografinya nggak bermutu sehingga dikritik habis-habisan oleh seorang Ulama Ahlussunnah Wal jema’ah.

Untuk mengetahuinya secara lebih detail, mari kita ikuti kritik tajam ke Adz-Dzahabi oleh  Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, dan diterjemahkan secara apik dan terang oleh Abou fateh berikut ini…..

Kebencian adz-Dzahabi Kepada al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari Dan Kaum Asy’ariyyah

Oleh:  Abou Fateh

Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah menuliskan bahwa adz-Dzahabi (w 748 H) mempunyai sifat sinis kepada al-Imâm al-Asy’ari. Adz-Dzahabi sama sekali nggak apresiatif, bahkan senantiasa memojokan faham-faham al-Imâm al-Asy’ari dalam berbagi kesempatan. Perlakuan adz-Dzahabi dalam meremehkan al-Imâm al-Asy’ari ini sebagimana ia tuangkan dalam karyanya sendiri; Târîkh adz-Dzahabi. Dalam menuliskan biografi al-Imâm al-Asy’ari, adz-Dzahabi sama sekali nggak mempunyai keinginan untuk menempatkannya secara proporsional sesuai keagungannya.

Al-Imâm Tajuddin as-Subki menjelaskan bahwa adz-Dzahabi mempunyai kebencian yang terlalu besar kepada al-Imâm al-Asy’ari, cuma saja ia nggak sanggup untuk mengungkapkan itu seluruh sebab takut diserang balik oleh Ahl al-Haq dari para pemuka Ahlussunnah. Di sisi lain adz-Dzahabi juga nggak sabar untuk mendiamkan ajaran-ajaran al-Imâm al-Asy’ari yang menurut dia selaku ajaran yang nggak benar. Dalam menuliskan biografi al-Imâm al-Asy’ari, adz-Dzahabi sedikit berkomentar, di akhir tulisannya ia cuma berkata: “Barangsiapa yang ingin mengenal lebih jauh tantang al-Asy’ari maka silahkan untuk membaca kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî karya Abu al-Qasim Ibn Asakir”[1].

Yang lebih mengherankan lagi di akhir tulisan itu lantas adz-Dzahabi menuliskan ungkapan doa selaku berikut: “Ya Allah, matikanlah kami di dalam Sunnah Nabi-Mu dan masukan kami ke surga-Mu. Jadikanlah jiwa-jiwa kami ini tenang. Kami mencintai para wali-Mu karena-Mu, dan kami tidak suka para musuh-Mu karena-Mu. Kami meminta ampun kepada-Mu bagi hamba-hamba-Mu yang sudah melaksanakan maksiat. Jadikan kami mengamalkan ayat-ayat muhkamât dari kitab-Mu dan beriman dengan ayat-ayat mutsyâbihât-nya. Dan jadikan kami selaku orang-orang yang mensifati-Mu sebagaimana Engkau mensifati diri-Mu sendiri”[2].

Simak tulisan al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam mengomentari tulisan adz-Dzahabi di atas:

“Dari sini nyata bagimu bahwa adz-Dzahabi ini terlalu aneh dan mengherankan. Engkau menyaksikan sendiri bagaimana sikap orang miskin ini, dia sungguh-sungguh seorang yang celaka. Saya sudah menjelaskan berulang-ulang bahwa adz-Dzahabi ini sesungguhnya guru saya, dan saya beberapa mengambil ilmu hadits darinya, cuma saja kebenaran lebih berhak untuk diikuti, dan karenanya saya wajib menerangkan kebenaran ini. Maka saya katakan: “Wahai adz-Dzahabi, orang sepertimu bagaimana mungkin cuma menyuruh orang lain untuk membaca kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî sementara engkau sendiri malalaikan pujian kepada Syaikh al-Asy’ari?! Padahal engkau sama sekali nggak meninggalkan nama seorangpun dari kaum Mujassimah kecuali engkau menuliskan biografinya secara langkap. Bahkan bukumu itu sampai menyebut-nyebut biografi beberapa orang dari madzhab Hanbali yang datang belakangan dan nggak mempunyai kapasitas memadai secara keilmuan.

Seluruh itu engkau tuliskan biografinya dengan terlalu rinci dan lengkap. Kemudian apakah engkau nggak sanggup untuk menuliskan biografi Syaikh al-Asy’ari secara proporsional?! Padahal derajat Syaikh al-Asy’ari berada  jauh ribuan tingkat di atas orang-orang mujasim yang engkau tuliskan itu?! Nggak lain ini ialah hawa nafsu dan kebencian yang sudah mencapai puncaknya. Saya bersumpah untuk Allah, engkau melaksanakan ini nggak lain cuma sebab engkau nggak suka nama al-Asy’ari disebut-sebut dengan segala kebaikannya. Dan di sisi lain engkau nggak sanggup untuk mengungkapkan ke orang-orang Islam akan apa yang ada dalam hatimu dari kebencian ke Syaikh al-Asy’ari, sebab engkau sadar bila kebencian itu engkau ungkapkan seutuhnya maka engkau akan berhadapan dengan power seluruh orang Islam.

Sementara itu doamu yang engkau ungkapkan di akhir tulisan biografi Syaikh yang terlalu ringkas itu, adakah kalimat-kalimat itu pada tempatnya wahai orang miskin?! Lantas ungkapanmu “…dan jadikanlah kami orang-orang yang tidak suka musuh-musuh-Mu” ialah nggak lain sebab manurutmu Syaikh al-Asy’ari ialah musuh Allah, dan engkau sungguh-sungguh terlalu membencinya. Kelak nanti engkau akan berdiri di depan hukum Allah untuk bertanggung jawab kepada Syaikh, sementara seluruh ulama dari empat madzhab, orang-orang saleh dari kaum sufi, dan para pemuka Huffâzh al-hadîts berada di dalam barisan Syaikh al-Asy’ari. Engkau kelak waktu itu akan merangkak dalam kegelapan akidah tajsîm, yang engkau mengaku-aku sudah bebas dari akidah sesat tersebut, padahal engkau ialah orang terdepan dalam menyeru ke akidah sesat tersebut.

Engkau mengklaim ahli dalam problem Ilmu Tauhid, padahal engkau sama sekali nggak memahaminya walaupun cuma seukuran atom atau seukuran tipisnya kulit biji kurma sekalipun. Saya katakan bagimu: “Siapatah sesungguhnya yang mensifati Allah sesuai dengan keagungan-Nya sebagaimana Allah mensifati diri-Nya sendiri?! Adakah orang itu yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya seperti dirimu?! Ataukah yang sungguh-sungguh memahami bahwa “Allah nggak menyerupai apapun dari segala makhluk-Nya” (QS. As-Syura: 11)?!”. Sesungguhnya, secara spesial bagiku nggak wajib beberapa bicara dalam problem ini, tapi sedemikian hal ini wajib saya sampaikan.

Dalam penulisan biografi Syaikh al-Asy’ari sebagaimana anda tahu sendiri, bahwa sesungguhnya nggak akan cukup dengan cuma dituangkan dalam beberapa lembar saja. Dalam kitab yang saya tulis ini, saya juga memerintahkan ke para pembaca yang ingin mengenal lebih jauh soal Syaikh al-Asy’ari untuk berpatokan ke kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî (karya al-Hâfizh Ibn Asakir). Tetapi anjuran saya ini tak sama dengan anjuran adz-Dzahabi. Saya menganjurkan anda untuk membaca Tabyîn Kadzib al-Muftarî supaya anda sungguh-sungguh mengenal sosok al-Asy’ari dan mengetahui keagungan serta bertambah kecintaan kepadanya, sementara adz-Dzahabi menganjurkan hal tersebut nggak lain cuma untuk menutup mata anda, sebab sesungguhnya dia sudah bosan dengan menyebut-nyebut kebaikan orang-orangnya sendiri yang nggak suka ke Syaikh al-Asy’ari”[3].

Pada bagian lain dalam kitab yang sama al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam penulisan biografi al-Hâfizh Ahmad ibn Shaleh al-Mishri menuliskan kaedah yang terlalu berharga dalam metode penilaian al-jarh (pengakuan buruk kepada orang lain). Kesimpulannya ialah bahwa apabila seseorang melaksanakan al-jarh kepada orang lain yang mempunyai amal saleh lebih beberapa dari pada perbuatan maksiatnya, dan orang-orang yang memujinya lebih beberapa dari pada yang mencacinya, serta orang-orang yang menilai positif untuknya (al-Muzakkûn) lebih beberapa dari pada yang menilai buruk atasnya (al-Jârihûn), maka penilaian orang ini nggak dapat diterima, sekalipun ia punya penjelasan dalam penilainnya tersebut. Terlebih lagi apa bila orang yang menilai al-jarh ini berlandaskan sebab panatisme madzhab, atau sebab kecemburuan problem duniawi dan lainnya.

Lantas pada akhir tulisan kaedah al-jarh ini, al-Imâm Tajuddin as-Subki menuliskan:

“… dan adz-Dzahabi ini ialah guru kami. Dari sisi ini ia ialah seorang yang mempunyai ilmu dan mempunyai sikap teguh dalam beragama. Cuma saja dia mempunyai kebencian keterlaluan kepada para ulama Ahlussunnah. Sebab itu adz-Dzahabi ini nggak boleh dijadikan sandaran”.

Masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga mengutip tulisan al-Imâm al-Hâfizh Shalahuddin Khalil ibn Kaikaldi al-Ala-i dalam penilainnya kepada adz-Dzahabi, selaku berikut:

“Al-Hâfizh asy-Syaikh Syamsuddin adz-Dzahabi nggak saya ragukan dalam keteguhan beragamanya, sikap wara’-nya, dan ketelitiannya dalam memilih berbagai pandangan dari orang lain. Cuma saja dia ialah orang yang keterlaluan dalam memegang teguh madzhab itsbât dan dia terlalu benci kepada takwil sampai ia melalaikan akidah tanzîh. Sikapnya ini sudah memberikan pengaruh besar kepada tabi’atnya, sampai ia berpaling dari Ahl at-Tanzîh dan terlalu cenderung kapada Ahl al-Itsbât.

Kalau ia menuliskan biografi seseorang yang berasal dari Ahl al-Itsbât maka dengan panjang lebar ia akan mengungkapkan segala kebaikan yang ada pada diri orang tersebut, walaupun kebaikan-kebiakan itu cuma sebatas prasangka saja ia tetap akan menyebut-nyebutnya dan bahkan akan melebih-lebihkannya, dan kepada segala kekhilafan dan aib orang ini ia akan berpura-pura mengabaikannya dan menutup mata, atau bahkan ia akan membela orang tersebut. Tetapi apa bila yang ia menuliskan biografi seorang yang ia anggap nggak sepaham dengannya, seperti Imam al-Haramain, al-Imâm al-Ghazali, dan lainnya maka sama sekali ia nggak mengungkapkannya secara proporsional, sebaliknya ia akan menuliskan nama-nama orang yang mencaci-maki dan menyerangnya.

Ungkapan-ungkapan cacian tersebut bahkan seringkali ia tulis berulang-ulang untuk ia tampakkan itu seluruh dengan nyata, bahkan ia meyakini bahwa menuliskan ungkapan-ungkapan cacian semacam itu selaku bagian dari agama. Di sini ia sungguh-sungguh berpaling dari segala kebaikan para ulama agung tersebut, dan sebab itu dengan sengaja pula ia nggak menuliskan kebaikan-kebaikan mereka. Sementara bila ia menemukan cacat kecil saja pada diri mereka maka ia nggak akan melewatkannya. Perlakuan ini pula yang ia lakukan kepada para ulama yang hidup semasa dengan kami. Dalam menuliskan biografi para ulama tersebut kalau ia nggak sanggup secara terus jelas mengungkapkan cacian atas diri mereka (sebab takut diserang balik) maka ia akan menuliskan ungkapan “Allâh Yushlihuh” (semoga Allah menjadikan dia seorang yang lurus), atau semacamnya. Ini seluruh nggak lain ialah sebab akidah dia yang tak sama dengan mereka”[4].

seusai mengutip pernyataan al-Hâfizh al-Ala-i di atas, al-Imâm Tajuddin as-Subki lalu menuliskan komentar berikut:

“Sesungguhnya, kondisi guru kita adz-Dzahabi ini lebih parah dari pada apa yang digambarkan oleh al-Hâfizh al-Ala-i. Benar, dia ialah syaikh kita dan guru kita, cuma saja kebenaran lebih berhak untuk diikuti dari pada dirinya. Ia mempunyai panatisme yang keterlaluan sampai mencapai batas yang tercela. Saya kuatir atas dirinya di hari kiamat nanti bahwa ia akan dituntut oleh kebanyakan ulama Islam dan para Imam yang sudah membawa syari’at Rasulullah ke kita, sebab sesungguhnya kebanyakan mereka ialah kaum Asy’ariyyah. Sementara adz-Dzahabi apa bila ia menemukan seorang yang bermadzhab Asy’ari maka ia nggak akan tinggal diam untuk mencelanya. Yang saya yakini bahwa para ulama Asy’ariyyah tersebut, walaupun yang paling rendah di antara mereka di hari kiamat nanti kelak akan jadi musuh-musuhnya. Cuma ke Allah kita berkeinginan supaya bebannya diringankan, semoga Allah memberi ilham ke para ulama tersebut untuk memaafkannya, juga semoga Allah memberikan syafa’at mereka untuknya. Sementara itu, para ulama yang semasa dengan kami menjelaskan bahwa seluruh pandangan yang berasal dari dirinya nggak boleh di anggap dan nggak boleh dijadikan sandaran”[5].

Pada bagian lain, masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan selaku berikut:

“Adapun kitab at-Târîkh karya guru kami; adz-Dzahabi, semoga Allah memberikan ampunan kepadanya, sekalipun sebuah karya yang cakep dan menyeluruh, tapi di dalamnya full dengan panatisme keterlaluan, semoga Allah memaafkannya. Di dalamnya ia sudah beberapa mencaci-maki para ahli agama, yaitu mencaci maki kaum sufi, padahal mereka itu ialah orang-orang saleh. Ia juga beberapa menjelekan para Imam terkemuka dari kalangan madzhab Syafi’i dan madzhab Hanafi. Ia mempunyai kebencian yang keterlaluan kepada kaum Asy’ariyyah. Sementara kepada kaum Mujassimah ia mempunyai kecenderungan bahkan ia memuji-muji mereka. Walau sedemikian ia tetap salah seorang Hâfizh terkemuka dan Imam yang agung. Kalau sejarawan (Mu’arrikh) sekelas adz-Dzahabi saja mempunyai kecenderungan panatisme madzhab keterlaluan sampai batas seperti ini, maka bagaimana lagi dengan para sejarawan yang berada jauh di bawah tingkatan adz-Dzahabi?! Sebab itu pandangan kami ialah bahwa penilaian al-Jarh (cacian) dan al-Madh (pujian) dari seorang sejarawan nggak boleh diterima kecuali apa bila terpenuhi syarat-syarat yang sudah dinyatakan oleh Imam agung ummat ini (Habr al-Ummah), yaitu ayahanda kami (al-Imâm Taqiyuddin as-Subki), semoga rahmat Allah senantiasa tercurah atasnya”.

Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya karyanya berjudul Qam’u al-Mu’âridl Bi Nushrah Ibn Fâridl menuliskan selaku berikut:

“Anda jangan merasa heran dengan sikap sinis adz-Dzahabi. Sungguh adz-Dzahabi ini mempunyai sikap benci dan terlalu sinis kepada al-Imâm Fakhruddin ar-Razi, padalah ar-Razi ialah seorang Imam yang agung. Bahkan ia juga terlalu sinis kepada Imam yang lebih agung dari pada Fakhruddin ar-Razi, yaitu ke al-Imâm Abu Thalib al-Makki; penulis kitab Qût al-Qulûb. Bahkan lebih dari pada itu, ia juga terlalu sinis dan terlalu benci kepada al-Imâm yang lebih tinggi lagi derajatnya dari pada Abu Thalib al-Makki, yaitu ke al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari. Padahal siapa yang nggak kenal al-Asy’ari?! Namanya harum semerbak di seluruh penjuru bumi. Sikap buruk adz-Dzahabi ini ia tulis sendiri dalam karya-karyanya, seperti al-Mîzân, at-Târikh, dan Siyar A’lâm an-Nubalâ’. Adakah anda akan menerima penilaian buruk adz-Dzahabi ini kepada para ulama agung tersebut?! Untuk Allah sekali-kali jangan, anda jangan pernah menerima penilaian adz-Dzahabi ini. Sebaliknya anda wajib memposisikan derajat para Imam agung tersebut secara proporsional sesuai dengan derajat mereka masing-masing”[6].

Asy-Syaikh al-Imâm Ibn al-Wardi dalam kitab Târîkh Ibn al-Wardi pada bagian akhir dari juz ke dua dalam penulisan biografi adz-Dzahabi menjelaskan bahwa di akhir hayatnya adz-Dzahabi bersegera menuntaskan kitab Târîkh-nya. Dalam kitab at-Târîkh ini adz-Dzahabi menuliskan biografi para ulama terkemuka di daratan Damaskus dan lainnya. Metode penulisan yag dipakai ialah dengan bertumpu ke peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara mereka dari masa ke masa. Cuma saja buku ini lantas berisi sinisme kepada beberapa orang ulama terkemuka[7].

Saya Abou Fateh, penulis buku yang lemah ini, –sama sekali bukan untuk target mensejajarkan diri dengan para ulama di atas dalam menilai adz-Dzahabi, tapi cuma untuk saling mengingatkan di antara kita–, menambahkan:

“Al-Hâfizh Syamsuddin adz-Dzahabi ini ialah murid dari Ibn Taimiyah. sebagian besar apa yang diajarkan oleh Ibn Taimiyah sudah sungguh-sungguh diserap olehnya, nggak terkecuali dalam problem akidah. Bagian karya adz-Dzahabi yang sekarang ini merupakan bagian rujukan utama kaum Wahhabiyyah dalam menetapkan akidah tasybîh mereka ialah sebuah buku berjudul “al-‘Uluww Li al-‘Aliyy al-‘Azhîm”. Buku ini wajib dihindari dan dijauhkan dari orang-orang yang lemah di dalam problem akidah. Sebab ternyata, –dan ini yang membikin miris penulis–, nggak tidak banyak di antara generasi muda kita sekarang yang terlena dengan ajaran-ajaran Ibn Taimiyah dan faham-faham Wahhabiyyah sampai menjadikan buku adz-Dzahabi ini selaku bagian rujukan dalam menetapkan akidah tasybîh mereka. Hasbunallâh.

 

footnote:

[1] Târîkh adz-Dzahabi.

[2] Ibid.

[3] Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, j. 3, h. 352-354

[4] Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, j. 1, h. 185.

[5] Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, j. 1, h. 190 dalam penyebutan biografi Ahmad ibn Shaleh al-Mishri.

[6] Lihat ar-Raf’u Wa at-Takmîl Fî al-Jarh Wa at-Ta’dîl, h. 319-320 karya asy-Syaikh Abd al-Hayy al-Laknawi mengutip dari risalah Qam’u al-Mu’âridl karya al-Hâfizh as-Suyuthi. Nggak tidak banyak para ulama dalam karya mereka masing-masing menuliskan sikap buruk adz-Dzahabi ini kepada al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, kaum Asy’ariyyah, dan secara spesial kebenciannya kepada kaum sufi, di antaranya salah seorang sufi terkemuka al-Imâm Abdullah ibn As’ad al-Yafi’i al-Yamani dengan karyanya berjudul Mir’âh al-Janân Wa ‘Ibrah al-Yaqzhân, dan al-Imâm Abd al-Wahhab asy-Sya’rani dengan karyanya berjudul al-Yawâqît Wa al-Jawâhir Fî Bayân ‘Aqâ’id al-Akâbir, termasuk beberapa karya yang sudah kita sebutkan di atas.

[7] Lihat Barâ’ah al-Asy’ariyyîn mengutip dari Târîkh Ibn al-Wardi, j. 2, h. 13

 

Sumber

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

17 Comments

  1. Wah, ummati dah bangun kembali nih. Selamat deh buat admin. Lama ga nongol biin kangen banget deh. Ini memang situs benteng aswaja online yg top

  2. Hehehehehehehehe…
    Makin kucu Ummati, dah lama gak kunjungan…kangen…
    Oh…ya…kalo menurut kalian gimana sama ini…
    ada yang pake tulisan Imam Az Dzahabi..untuk menohok Wahabi…Kasihan
    http://salafiah.net/content/kitab-siyar-a%E2%80%99lam-nubala%E2%80%99-imam-adzahabi-%E2%80%93-membungkam-kelompok-anti-tawassul-wahabi
    betul Imam Az Dzahabi..semoga Allah meridhoinya…
    Dan alangkah lucunya orang Aswaja…
    Satu membenci..
    Yang Lain menganggumi..
    Semua bisa di pake asal menghantam Wahabi..

  3. Kami terkadang menggunakan pendapat2 ibnu Taymiyyah, ibnul Qayyim al-Jauzi, Muhammad al-Utsaymin, adz-Dzahabi untuk menjawab paham wahhabi. Why? Itu namanya menjawab wahhabi dg pendapat ulama2 yg mereka pegang.

    Sama saja dg menjawab orang Kristen dg meggunakan alkitab. Apa berarti kita percaya kepada alkitab yg mereka pegang?

    Nah, menggunakan pendapat ulama wahhabi bukan berarti mengagungkan dan berpegang pd pendapat ulama wahhabi. Tetapi menggunakan apa2 yg wahhabi percayai. Kalo pake pendapat ulama2 Asy’ariyyah, entar suka ada yg nyeltuk: Ga ilmiyyah, lucu, dsb

    1. Abu Hanin@

      Itu simak penjelasan Ustadz Artikel Islami. Jadi, kesimpulannya kami menggunakan pendapat AdzDzahabi dan ulama2 Mujassimah Musabbihah bukan untuk kami tapi untuk menjawab persoalan kalian. Itu kan ulama kalian yg ngomong, biar Nte percaya. Kalau gak percaya kpd ulamanya Wahabi kebangetan deh, kwk kwk kwk…

      Masa kpd sanadnya kaum sendiri masih gak percaya sih? Gitu maksudnya. Maaf ini hanya nambahin penjelasan dari ustadz AI@ padahal sudah jelas lho penjelasan Ustadz AI ?

    2. Mas AI, sukron,,,
      dgn jawaban ulama2 mereka saja mereka udh mti kutu, apalagi ulama2 As’ariyyah yg kedalaman ilmunya yg sangat dalam,,,sayang2 kaum Sahwah!!! antum2 semua telah membuat fitnah yg besar mengajak umat islam yg awam kepada kesesatan!!!!,,,

  4. Mantap kaka!
    Mayoritas ulama, mayoritas huffazhul hadits emang pengikut Imam al-Asy’ari. Nah wahhabi benci Imam Asy’ari, gmn ceritanya tuh?
    Berarti nanti di yawmul qiyamah, mereka akan berhadapan dg Imam Asy’ari, Imamnya mayoritas ulama. Mudah2an Allah memberi wahhabi itu hidayah agar mereka kembali pada ajaran ahlus sunnah dan menjadi ma’mum dari Imam al-Asy’ari

KOLOM KOMENTAR ANDA :