Ada Apa dengan Sikap Wapres Jusuf Kalla Waktu Hormat Bendera?

Wapres Jusuf Kalla 'Tidak Hormat Bendera' Dipertanyakan Netizen di Sosmed

Wapres Jusuf Kalla ‘Tidak Hormat Bendera’ Dipertanyakan Netizen di Sosmed

“Kesel aja pas Pak JK nggak hormat ke bendera, nggak hormatin banget, live loh pak, apa kata dunia,” cuit akun @Bassyita, Senin, 17 Agustus 2015.

Islam-Institute.com, JAKARTA – Cawapres Jusuf Kalla tampak tidak melaksanakan hormat waktu pengibaran bendera Merah Putih dalam upacara warning kemerdekaan Indonesia ke-70 di Istana Merdeka Jakarta. Aksi itu pun jadi perbincangan hangat netizen di jagad Twitter.

Dalam upacara itu, Presiden Joko Widodo dan Kalla tampak berdiri berdampingan. Jikalau Jokowi mengangkat tangannya untuk hormat, tidak demikan dengan Kalla. Dia cuma menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa hormat untuk bendera. Akan tetapi, performance gambar di televisi tersebut tidak berlangsung lama. Gambar lalu lebih fokus pada bendera. Sejenak lalu cuma muka Jokowi yang dipertunjukkan dengan sikap hormatnya.

Netizen pun dengan cepat meresepon aksi tersebut. Mereka kebanyakan menyesalkan kejadian tersebut. “Kesel aja pas Pak JK nggak hormat ke bendera, nggak hormatin banget, live loh pak, apa kata dunia,” cuit akun @Bassyita, Senin, 17 Agustus 2015. “Waktu pengibaran bendera merah putih, kenapa Cawapres tidak kasih hormat? lupa kah?” cuit @christianRM. Cuit tersebut bahkan langsung ditautkan pada akun @Pak_JK dan @Joko Widodo. Sindiran juga disampaikan oleh netizen lain, “E tapi mungkin di tipi gw aja pak JK ga hormat, mungkin di tipi yang lain ngga,” cuti akun @ayeeph.

Hormat Bendera Apa Hukumnya? 

Menghormati bendera termasuk sesuatu yang tidak dibicarakan secara eksplisit di 2 sumber hukum Islam Al-Quran dan al-hadits mengingat upacara bendera itu dulu tidak umum Dilakukan. Sebagian ulama mengambil dalil dari ke-2 sumber yang kira-kira agak relevan dengan problem ini. Karena itu, terjadi perbedaan pandangan dalam soal hukum menghormati bendera seperti diurai di bawah ini.

Syekh Athiyah Shaqar, eks ketua majelis Fatwa Al-Azhar Mesir menerangkan bahwa menghormati bendera diizinkan karena hormat bendera bukan ibadah.

فتحية العلم بالنشيد أو الإشارة باليد في وضع معين إشعار بالولاء للوطن والالتفاف حول قيادته والحرص على حمايته، وذلك لا يدخل فى مفهوم العبادة له، فليس فيها صلاة ولا ذكر حتى يقال : إنها بدعة أو تقرب إلى غير الله

Artinya: Menghormati bendera dengan lagu atau isyarat tangan dalam situasi tertentu itu memperlihatkan kesetiaan pada tanah air, berkumpul di bawah kepemimpinannya, dan tekad bulat untuk mendukungnya. Sikap itu tidak masuk dalam pengertian ibadah untuk bendera itu. Penghormatan bendera bukanlah shalat atau dzikir sampai ada yang bilang itu bid’ah atau ibadah pada selain Allah. [1]

Abdurrahman Syaiban–ketua Majelis Ulama Al-Jazair (جمعية العلماء المسلمين الجزائريين) tahun 1999-2001 — menerangkan bahwa berdiri waktu dinyanyikan lagu kebangsaan atau menghormati bendera tidak bertentangan dengan syariah dan aqidah karena tidak ada nash (dalil Quran hadits) yang mengharamkannya.

Abudurrahman Syaiban berkata:

أن القول بعدم جواز الاستماع إلى النشيد الوطني أو الوقوف له أمر غير مؤسس دينيا، وليس هناك أي نص يحرمه أو يكرهه، بل على عكس ذلك، هو أمر محبب، لأن ديننا الحنيف أكد أن ”حب الوطن من الإيمان” والعلم والنشيد والراية وونياشين هي علامات رمزية واصطلاحات حياتية لا علاقة لها بالشرع

Artinya: Pandangan tidak bolehnya mendengarkan lagu kebangsaan atau berdiri waktu dinyanyikan tidak mempunyai dasar syariah. Tidak ada dalil apapun yang mengharamkan atau memakruhkannya. Malah sebaliknya: itu perkara yang dianjurkan. Karena, agama Islam merilis bahwa “Cinta tanah air itu bagian dari iman.” Adapun lagu dan bendera itu ialah tanda dan simbol kehidupan yang tidak ada kaitannya dengan syariah.[2]

Menghormati bendera, berdiri di depan bendera, berdiri waktu menyanyikan lagu kebangsaan ialah problem duniawi dan bukan ibadah. Karena itu, melakukannya bukanlah bid’ah karena bid’ah itu kaitannya dengan ibadah mahdhoh. Ia juga bukan syirik karena syirik itu kaitannya dengan mempertuhankan bukan penghormatan.

Wapres Jusuf Kalla'Tidak Hormat Bendera' Dipertanyakan Netizen di Sosmed

Salahkah Sikap Pak Jusuf Kalla Waktu Hormat Bendera?

Kita lihat Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1958:

Pasal 20
Pada waktu upacara penaikan atau penurunan Bendera Kebangsaan, maka seluruh orang yang datang memberi hormat dengan berdiri tegak, berdiam diri, seraya menghadapkan muka untuk bendera sampai upacara selesai.

Mereka yang berpakaian seragam dari sesuatu organisasi memberi hormat menurut cara yang telah ditetapkan oleh organisasinya itu.

Mereka yang tidak berpakaian seragam, memberi hormat dengan meluruskan lengan kebawah dan melekatkan tapak tangan dengan jari-jari rapat pada paha, tengah semua kategori penutup kepala wajib dibuka, kecuali kopiah, ikat kepala, sorban dan kudung atau topi wanita yang dipakai menurut agama atau adat-kebiasaan.

Jadi, dalam kejadian ini cara menghormat Pak JK untuk sang Merah Putih sama sekali tidak salah. (al/ARN/MM/Alkhoirot)

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.