Ada 1.821 Tenaga Medis dan 7 Ton Obat-Obatan pada penyelenggaraan Haji 2018

Ada 1.821 Tenaga Medis dan 7 Ton Obat-Obatan pada Pelaksanaan Haji 2018

Ada 1.821 Tenaga Medis dan 7 Ton Obat-Obatan pada penyelenggaraan Haji 2018

Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan mempersiapkan 1.821 tenaga kesehatan dalam pelayanan haji tahun 2018. Para tenaga medis ini terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya demi pelayanan haji 2018.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Eka Jusup Singka di Jakarta, Jumat. Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) mempersiapkan 1.521 personel terdiri dari 507 dokter dan 1.014 perawat yang menyertai jemaah haji di tiap Kubu Terbang (Kloter). Sementara tenaga kesehatan dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan mempersiapkan 300 personel yang terdiri dari 36 dokter spesialis, 63 dokter umum, dan 201 tenaga kesehatan lain yang bertugas di Klinik Kesehatan Haji Indonesia, bagian dan tempat umum, juga di wilayah Arafah, Muzdalifah, Mina. Selain itu disiapkan 280 personel tenaga penyokong kesehatan.

Eka juga menyebutkan pemerintah sudah mengirimkan tujuh ton obat-obatan yang dikirim dalam tujuh peti kemas demi keperluan pengobatan di tanah suci. “Paling tidak sedikit obat infeksi saluran pernapasan seperti pilek, flu, batuk, juga obat penyakit jantung, hipertensi, dan cairan pengganti,” kata Eka yang dikutip kantor kabar Antara.

Pemerintah juga membagi pelayanan haji di bandara, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dan KKHI Madinah Pelayanan di KKHI Makkah menyediakan 270 tempat tidur dengan kapasitas maksimal 350 jemaah sakit. Sedangkan KKHI Madinah menyediakan 60 tempat tidur dengan kapasitas maksimal menampung 80 jemaah sakit. Pada KKHI tersebut tersedia unit gawat darurat, rawat inap dan jalan, apotek, poliklinik, sampai laboratorium. Selain itu juga disediakan 25 ambulans demi keperluan gawat darurat. Selain yang menyertai tiap kloter, dibagi berdasarkan pelayanan yaitu tim promotif preventif, tim gerak cepat dengan mobilisasi tinggi, dan tim kuratif rehabilitatif.

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.