Abu Salafy VS Ustadz Firanda, Ustadz Firanda Jadi Musyrik Sendiri

Islam Institute
Loading...

Abu Salafy VS Ustadz Firanda, disyarah oleh Ustadz Ahmad Syahid. Dari penjelasan ustadz Ahmad Syahid kita sanggup simpulkan hikmahnya, “Hati-hati menimba ilmu dari Ulama Najd”. SAMBUNGAN KISAH NYATA: Ustadz Firanda Jadi Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri. ( BAGIAN TERAKHIR: Efek  Menuntut Ilmu untuk Ulama Najd ).

Dalam postingan ini yang Adalah sambungan dari postingan terdahulu di sini, makin memperjelas siapa sejatinya ustadz Firanda. Sungguh payah pemahamannya mengenai hal ajaran Islam, payah dalam arti yang sejatinya. Pesan kami, hati-hatilah ikut pemahamannya, jangan sampai anda pun ikut-ikutan terjerat dalam pemahaman yang batil yang disebarkannya di muka bumi ini.

Tulisan yang diblock quote ialah dari Ustadz Firanda, sedangkan yang tanpa block quote ialah komentar atau respon H. Ahmad Syahid. Selamat mennyimak semoga berguna bagi kita seluruh untuk memperoleh pemahaman yang benar mengenai hal dienul Islam yang sesuai Al Qur’an dan Hadits menurut penjelasan yang diajarkan para Ulama  Ahlussunnah Wal Jamaah.

Sambungan dari Postingan Abu Salafy VS Ustadz Firanda: “Ustadz Firanda Dapat Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri”

Ustadz Firanda meneruskan :

Kemudian bagaimana ustadz abu Salafy mengumumkan bahwasanya kalau seseorang berdoa untuk selain Allah, untuk Nabi atau untuk wali maka itu bukanlah kesyirikan selama tidak disertai keyakinan bahwasanya wali atau nabi tersebut ikut mencipta dan mengatur alam semesta serta memberi rizki??!!

Perkataan seseorang “Wahai Rasulullah, sembuhkanlah saya!!!” ini bukanlah kesyirikan??, perkataan seseorang, “Wahai Abdul Qodir Jailani, tolonglah saya…!!”, ini juga bukan kesyirikan??!!, iya bukan kesyirikan, selama tidak meyakini Nabi dan Abdul Qodir Jailani ikut mencipta dan mengatur alam semesta..!!!!, demikianlah keyakinan Abu Salafy.

Dan saya ingin para pembaca memperhatikan ayat-ayat dan hadits di atas yang bersifat umum mengenai hal doa. Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak pernah mengecualikan bahwasanya kalau berdoa untuk makhluk dengan keyakinan bahwasanya makhluk tersebut (baik malaikat atau nabi atau wali) tidak ikut mencipta, mengatur, dan memberi rizki secara independent maka bukan kesyirikan.

Lebih aneh lagi Abu Salafy tidak menganggap istighotsah selaku ibadah. Abu Salafy berkata ((Karena Utama masalahnya sejatinya terletak pada pemahaman melenceng Ibnu Taimyah dan para mukallidnya seperti Ibnu Abdil Wahhâb dan kaum Wahhâbi mukallidnya dalam mendefinisikan makna ibadah…di mana mereka memasukkan meminta syafa’at, beristighatsah, bertawassul dll. misalnya selaku bentuk kemusyrikan… sementara para mufassir klasik yang selama ini dirujuk kaum Wahhâbiyyûn dan Salafiyyûn sama sekali tidak memasukkannya dalam daftar kemusyrikan!)) (lihat http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/08/benarkan-kaum-musyik-arab-beriman-kepada-tauhid-rububiyyah-allah-bantahan-untuk-ustad-firanda-i/).

Respon Ahmad Syahid:

Di point ini saya tidak Memberi komentar beberapa, saya serahkan untuk pembaca Budiman untuk menilai siapakah yang benar dan siapakah yang salah. Siapatah yang lebih berhak jadi Ustadz…? Apakah Abu salafy yang kokoh argumentasinya atau Firanda yang sudah menjerat dirinya sendiri dengan argumentasinya dalam kubangan kemusyrikan?

Ustadz firanda meneruskan :

Sungguh kedustaan yang dinyatakan oleh Abu Salafy, bahkan para ahli tafsir sudah menerangkan hal tersebut Adalah kesyirikan. Kita malah balik menanyakan ulama ahli tafsir mana yang mengumumkan bahwa beristigotsah dan berdoa untuk selain Allah –selama tidak syirik dalam rububiyah- bukanlah kesyirikan??!!

Karenanya kalau kita menanyakan untuk orang-orang yang beristigotsah untuk para wali dengan berdoa untuk wali tatkala dalam kondisi genting, “Apakah kalau Anda semua beristigotsah dan berdoa untuk Allah tatkala dalam kondisi genting maka bukankah hal itu Adalah ibadah?”, tentunya mereka akan menjawab : iya. Tidak ada seorang muslimpun yang mengingkari hal ini bahwa seseorang yang dalam kondisi terdesak kemudian berdoa untuk Allah maka artinya ia beribadah untuk Allah !!! Ini makin mengatakan dengan tegas bahwasanya berdoa dan beristigotsah Adalah ibadah. Kemudian bagaimana Abu Salafy tidak menganggap istighotsah selaku ibadah??!!

Jawab ustadz Ahmad Syahid:

Malah kita yang menanyakan untuk ustadz Firanda, Ulama Tafsir manakah yang mengumumkan bahwa beristighostah dan berdoa untuk selain Allah Ialah kesyirikan? Saya mohon ustadz Firanda menyampaikannya di sini 1 saja ( kalau Istighotsah dan tawassul menurut ahli tafsir ialah syirik ) kalau sungguh ada. Kalau tidak ada, sungguh ustadz Firanda sudah berdusta atas nama Ulama Tafsir, untuk menyokong kekeliruannya yang fatal sampai dirinya pun jadi musyrik ( sebab pemahamannya sendiri ).

Ustadz firanda meneruskan :

Mengenai hal majaz ‘aqliy

Untuk makin memperkuat igauannya maka ustadz Abu Salafy berdalil dengan majaz aqli, ia berkata ((misalnya saat ia menyeru, ‘Ya Rasulullah sembuhkan saya’ sejatinya ia tengah meminta supaya Rasulullha saw. sudi jadi perantara kesembuhan dengan memohonkannya dari Allah SWT. kendati ia meyakini bahwa kesembuhan itu dari Allah, akan tetapi sebab ia dengan perantaraan do’a dan syafa’at Rasulullah, maka ia menisbatkannya untuk karena terdekat. Penyusunan kalimat dengan bentuk seperti itu beberapa kita jumpai dalam Al Qur’an, Sunnah dan perbincangan orang-orang Arab. Mereka menamainya dengan Majâzz ‘Aqli, yaitu “menyandarkan sebuah pekerjaan tertentu untuk selain pelakunya, baik sebab ia selaku penyebab atau selainnya, dikarenakan adanya qirînah/argumentasi yang membenarkan”.))

Maka sanggahan kepada perkataannya ini dari beberapa sisi, diantaranya :

Ke-1 : Pendalilan dengan majaz ‘aqli untuk membenarkan kesyirikan atau mentakwil kesyirikan tidak pernah disebutkan oleh seorang ulama pun dari kalangan mutaqoddimin sejauh pengetahuan saya. Seluruh ulama menghukumi syiriknya seseorang dengan dzohir lafal kesyirikan yang terucap. Pentakwilan dengan majaz ‘aqli ini ialah bid’ah yang dicetuskan oleh Ali bin Abdil Kaafi As-Subki (wafat 746 H) dalam kitabnya Syifaa As-Siqoom fi ziyaaroh khoir Al-Anaam (hal 174), lantas ditaqlid buta oleh Ahmad bin Zaini Dahlaan (wafat 1304 H) dalam kitabnya “Ad-Duror As-Saniyah fi Ar-Rod ‘alaa Al-Wahaabiyah” dan Muhammad Alawi Al-Maaliki dalam kitabnya “Mafaahiim yajibu an tushohhah”. Dan sekarang diwarisi oleh muqollid mereka Abu Salafy.

Jawab :

Mengenai hal majaz ‘aqli , majaz ‘aqli bukanlah dalil bukan pula hujjah , majaz ‘aqli dipakai untuk menerangkan sebuah perkara atau masalah untuk orang-orang ngeyel seperti ustadz firanda ini. Dia mengeneralisir kalau seluruh do’a ialah Ibadah. Dia tidak mau menerangkan kata Do’a dalam al-quran mempunyai beberapa arti, rupanya dia sengaja sembunyikan kalau al-Quran membawa 6 atau 7 maksud dan arti dalam 1 kata ” Do’a”. Sebab kengeyelan dan penyembunyian fakta dalam Al-qur`an inilah, akhirnya dia pun terjerat dalam perangkap yang dia buat sendiri. Secara tidak sadar dia sudah menjadikan dirinya Musyrik sebab tentunya dia juga TAAT, TUNDUK dan MERENDAH dihadapan Makhluq yaitu ke-2 orang tuanya.

Di point ini pun kelihatan sekali akhlak negatif Ustadz Firanda dalam menyebut dan menyikapi perbedaan pandangan dari Imam-imam besar. Imam As-Subki seorang Muhaddits, Sayyid Ahmad Zaini dahlan ialah mufti makkah pada zamannya dan Ulama besar di zamannya Sayyid Al-maliki .

Ustadz firanda meneruskan :

Ke-2 : Hal ini melazimkan bahwa tidak seorang pun yang kafir dengan lisannya, sebab tiap-tiap seseorang mengucapkan kesyirikan atau bahkan kekufuran maka mesti dibawakan untuk makna yang benar dengan qorinah (indikasi) keislaman pengucapnya.

Yang lebih parah lagi Abu Salafy tidak cuma menerapkan majaz ‘aqli pada perkataan syirik seperti doa “Yaa Rasuulallah sembuhkanlah saya”, bahkan ia juga menerapkan majaz ‘aqliy pada perbuatan syirik, seperti memotong untuk wali.

Kalau perkaranya seperti ini maka percuma bab-bab mengenai hal kemurtadan yang ditulis oleh para ulama, tidak ada faedahnya, sebab kalau ada seseorang yang mengucapkan kekufuran atau kesyirikan maka mesti di takwil pada makna yang tidak syirik sebab pelakunya ber KTP islam, padahal para ulama sudah setuju bahwasanya seseorang tidak boleh mengucapkan perkataan kufur kecuali kalau dipaksa.

Jawab :

  1. Bagi Ahlu Sunnah Wal-jamaah (asyariyah/maturidiyah pemeluk madzhab 4 ) sangatlah sulit menghukumi sesorang dengan hukum Kafir. Apalagi kalau perkataan kufur keluar dari lisannya seorang Muslim sebab Qorinah yang kuat ialah keislamannya. Ada tatacara dan proses yang panjang untuk menghukumi sesorang dengan Hukum Kafir, karena kalau tidak terbukti maka hukum kafir itu akan kembali dan Soal yang menghukumnya.  Saya ingin Ustadz Firanda tidak gampangan dalam menghukumi seseorang dengan kata Kafir .

  2. Begitu juga dengan memotong, saya ingin ustadz Firanda tidak serampangan dengan menghukumi palakunya dengan hukum syirik. Karena al-Qur`an pun pernah bercerita mengenai hal Nabi Ibrohim yang memotong anak sapi untuk para tamunya. Apakah di mata ustadz Firanda, Nabi Ibrohim pun sudah Musyrik sebab memotong untuk tamunya? Kalau ya, maka keterlaluan sekali ustadz Firanda ini. Karena dalam cerita itu Allah pun tidak menghukumi syirik untuk Nabi Ibrohim. Begitu juga Rosulallah SAW tidak menjelaskan bahwa perbuatan Nabi Ibrohim ialah perbuatan Syirik.

  3. Mungkin bab-bab fiqh mengenai hal kemurtadan yang ditulis oleh para Ulama Islam ialah percuma dan tidak ada Faidahnya bagi ustadz firanda? Sebab ustadz Firanda tidak sanggup melampiaskan Hasyratnya untuk mengkafirkan dan memusyrikkkan orang lain. Sebab sungguh bab-bab mengenai hal Riddah dan takfir ditulis oleh para ulama bukan untuk mengkafirkan dan memusyrikkan orang lain. Dan amat berbahaya kalau dipakai oleh orang-orang semisal ustadz Firanda yang kacamatanya kotor dan pisau analisanya tumpul dalam memahami Qur`an, Hadist dan perkataan para ulama. Terbukti kalau dirinya pun terjerat oleh perangkap kesyirikan yang dibuatnya sendiri.

Ustadz firanda meneruskan :

Ketiga : Hal ini melazimkan bahwasanya kaum musyrikin yang menyembah berhala orang sholeh atau menyembah malaikat juga tidak sanggup dihukumi selaku kaum musyrikin. Sebab mereka mengakui dalam beberapa ayat bahwasanya Allahlah satu-satunya pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta. Legitimasi mereka kepada rububiyah Allah ini Adalah qorinah bahwasanya permintaan mereka untuk berhala orang sholeh hanyalah majaz ‘aqliy.

Jawab :

Perkataan ustadz Firanda ini berawal dari pemahamannya yang salah kepada kata kunci ” penyebab kemusyrikan kafir Quresy ”. Dia menetapkan kalau yang menyebabkan kafir Quresy Musyrik ialah sebab mereka mengambil perantara dalam berdo’a. Padahal yang benar ialah: sebab Kafir Quresy menyembah selain Allah yaitu laata Uzza dan manath serta sesembahan lainnya. Sebab mereka menyembah selain Allah inilah, Kafir Quresy jadi Musyrik. Dan rupanya Ustadz Firanda pun tidak faham apa itu majaz ‘aqly sehingga salah dalam menerapkannya.

Ustadz firanda meneruskan :

Ke-4 : Dalih majaz ‘aqliy ini melazimkan bolehnya para penyembah kubur untuk menyerahkan sebagian ibadah untuk para wali dengan argumentasi mereka cuma menjadikan para wali penghuni kuburan tersebut selaku karena, dan yang mengabulkan hanyalah Allah.

Jawab :

Rupanya ustadz Firanda belum faham kalau sumber hukum dalam Islam ialah Qur`an, hadist ijma’ dan Qiyas. Abu salafi, Imam As-subki , Mufti makkah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Sayyid Al Maliki serta ulama-ulama besar lainnya tidak pernah menjadikan Majaz ‘aqly selaku dalil. Majaz ‘aqli cuma dipakai untuk menerangkan untuk orang – orang ngeyel seperti ustadz Firanda ini supaya sadar bahwa dirinya sudah salah. Jika ngeyel terus akhirnya ustadz firanda pun tidak selamat dari perangkap yang dibuatnya sendiri, sebab dia sudah TAAT , TUNDUK dan MERENDAH-kan diri di depan ke-2 orang tuanya.

Ustadz firanda meneruskan :

Kelima : Hal ini melazimkan tidak boleh ada pengingkaran sama sekali kepada kesyirikan yang terjadi ditengah kaum muslimin yang mempunyai KTP muslim, sebab KTP nya Adalah qorinah bahwasanya perkataan dan perbuatan syiriknya ialah bukan kesyirikan.

Jawab :

Pengingkaran kepada kemungkaran haruslah tetap ditegakkan di mana pun itu terjadi. Seperti pengingkaran dan memperlihatkan kekeliruan sekaligus meluruskan pemahaman salah Ustadz Firanda supaya sadar dan tidak terus menerus dalam kemungkaran. Karena faham salah ustadz Firanda ini bila dibiarkan akan menyebabkan kehancuran besar bagi aqidah Ummat Islam, termasuk Ustadz Franda dan orang tuanya. Sebab saya percaya orang tua Ustadz Firanda ialah orang sholeh yang TAAT, TUNDUK dan MERENDAH di depan ke-2 orang nenek dan kakek ustadz Firanda.

Ustadz firanda meneruskan :

Keenam: Bahkan berdasar pemahaman Abu Salafy sungguh tidak ada kesyirikan sama sekali di ummat ini, sebab tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwa ada dzat lain yang ikut mencipta, mengatur alam semesta, dan memberi rizki secara independent.

Jawab :

Selama Ummat Islam tidak ada yang meyakini bahwa ada dzat lain yang ikut mencipta, mengatur alam semesta, dan memberi rizki secara independent, selama itu pulalah tidak ada kemusyrikan. Lalu kenapa sih ustadz Firanda begitu menggebu-gebu supaya ada ummat Islam jadi Musyrik? Ya akhi, gunakanlah ilmumu untuk membawa Ummat ke Ridlo Allah, janganlah pergunakan ilmumu untuk mengkafirkan dan berharap kemusyrikan terjadi dalam ummat Islam.

Ustadz firanda meneruskan :

Ketujuh : Majaaz ‘aqliy secara umum ialah menyandarkan fi’il (perbuatan) bukan untuk pelakunya yang hakiki akan tetapi untuk bagian dari 2 perkara:

– Penyandaran fi’il untuk waktu atau tempat terjadinya fi’il. Penyandaran perbuatan untuk waktu seperti misalnya perkataan “Musim semi sudah menumbuhkan tanaman” (maksudnya : Allah menumbuhkan tanaman di waktu musim semi). Penyandaran perbuatan untuk tempat misalnya perkataan “Jalan kota Jakarta ramai” (maksudnya : “Orang-orang ramai di jalan kota Jakarta”, sebab keramaian ditunaikan oleh orang-orang para user jalan dan bukan ditunaikan oleh jalan)

– Penyadaran fi’il (perbuatan) untuk karena terjadinya fi’il. Contohnya perkataan “Gubernur membangun gedung yang tinggi” (maksudnya : Gubernur karena dibangunnya gedung yang tinggi yaitu dengan memerintahkan para buruh” (lihat Al-Balaagoh Al-Waadhihah karya Ali Al-Jaarim dan Mushthofa Amiin, hal 115-117)

Maksud dari ustadz abu salafy dengan pendalilan majaz ‘aqliy di sini ialah menyandarkan fi’il untuk karena terjadinya fi’il, bukan untuk waktu atau tempat terjadinya fi’il. Karenanya ustadz Abu Salafy menerangkan bahwasanya perkataan seseorang “Wahai Rasululullah sembuhkanlah saya” atau “Wahai wali fulan selamatkanlah saya, angkatlah musibahku” maksudnya ialah, “Yaa Allah sembuhkanlah saya, yaa Allah angkatlah musibahku”. Sebagaimana taktala kita berkata “Musim semi menumbuhkan tanaman” maksudnya “Allah menumbuhkan tanaman tatkala musim semi”

Oleh karenanya supaya sanggup pas penerapan majaz aqliy di sini maka seorang yang beristighotsah untuk wali tatkala dalam keadaan genting maka dia mesti meyakini bahwa wali tersebut Adalah karena yang pasti untuk datangnya pertolongan Allah, maka ia mesti mempunyai 3 keyakinan:

– Wali yang telah mati ini sanggup menguping seruannya tatkala ia dalam kondisi genting dimanapun ia Ada

– Meyakini bahwa sang wali yang telah mati ini mengetahui keadaan musibah yang tengah ia alami, sebab kalau sang wali tidak pasti tahu maka artinya sang wali bukanlah karena.

– Meyakini bahwasanya wali ini pasti memberi syafaat untuknya di sisi Allah. Sebab jika tidak pasti maka artinya wali ini bukanlah karena

Dan ketiga keyakinan ini 1)bahwa wali menguping secara mutlaq, dan 2)sang wali mempunyai ilmu yang mutlaq sehingga mengetahui musibah yang tengah dialaminya, dan 3)syafaat mutlaq (bahwasanya sang wali pasti memberi syafaat kepadanya) tidak diragukan lagi Adalah kesyirikan.

Jawab :

Lagi-lagi ustadz Firanda salah dan salah faham, sebab 3 syarat yang disebutkan oleh ustad Firanda ialah murni Aqidah Ustadz firanda kenapa dinisbatkan untuk Abu Salafy? Kenapa kacamata milik ustadz Firanda dipakaikan untuk Abu salafy…? Gak cocok dong kacamata kotor di pakaikan ke orang lain…, entar orang lainnya marah gemana? Lagian kalo Abu Salafy tidak min dipakein kaca mata ustadz Firanda yang min sanggup pusing tuh Abu Salafy.

Ustadz firanda meneruskan ;

Kedelapan : Hukum asal dalam memahami sebuah perkataan ialah dibawa ke makna hakiki bukan ke makna majaz. Oleh karenanya para ulama balaghoh juga tidak membolehkan majaz ‘aqli secara mutlaq dipakai, oleh karenanya mereka cuma menyebutkan sedikit contoh berupa syair-syair atau perkataan-perkataan yang beredar di warga.

Kalau kita menguping sebuah perkataan “Musim semi menumbuhkan tanaman” maka –secara akal- kita akan paham bahwa maksud dari pengucap kata ini ialah “Allah menumbuhkan tanaman tatkala musim semi”. Maka saya ingin menanyakan secara jujur untuk abu salafy apakah tatkala seseorang berkata “Yaa Husain angkatlah musibah kami, wahai Husain sembuhkanlah saya, wahai Rasulullah sembuhkanlah saya” maksudnya ialah “Wahai Allah sembuhkanlah saya”??!!!, apakah Abu salafy memahami seperti ini??!!. Jangan-jangan yang mengucapkan “Abdul Qodir Jailani selamatkanlah saya” ia sendiri tidak paham apa itu majaz ”aqliy??!!.

Jawab :

Sekali lagi diingatkan kalau majaz ‘aqli bukanlah Dalil.  Majaz  ‘aqli cuma dipakai untuk memberi penjelasan khususnya bagi orang-orang ngeyel yang mereasa dirinya faham padahal tidak faham. Merasa dirinya benar padahal tidak benar ya kayak ustadz firanda ini. Dia aja kejerat sendiri oleh pemahaman dan kaidah yang dia buat sendiri bahwa do’aialah cuma artinya Ibadah dan Ibadah ialah ketaatan , ketundukan dan kerendahan.  Sementara kata ” Do'a” tidak cuma bermaknai Ibadah, doa` juga artinya : meminta, memanggil, dst….

Lalu ustadz Firanda mengenelarisir kalau doasemuanya bermakna Ibadah. Inilah pangkal kekeliruan fatal Ustadz Firanda, sebab saat dia meminta untuk orang tua atau Istri dan anaknya artinya dia sudah berdoa (meminta) , dan menurutnya seluruh doaialah Ibadah artinya ustadz Firanda tengah memalingkan doa (Ibadah ) untuk selain Allah. Sebab ustadz Firanda memalingkan Ibadah (doa“) untuk selain Allah yaitu orang tua anak dan Istrinya maka Ustadz firanda sudah jadi Musyrik. Makanya ustadz , Formulasikan ( definisikan ) dengan baik apa itu Ibadah, dan sampaikan untuk Ummat kalau tidak seluruh do’a bermakna Ibadah. Sampaikanlah sesuai Qur’an dan Sunnah apa adanya, jangan ditutup-tutupi cuma sebab ingin mengkafirkan dan menghukumi Musyrik untuk Ummat Islam .

Ustadz firanda meneruskan :

Kesembilan : Apakah orang yang dalam kondisi genting lantas mengucapkan “Wahai Abdul Qodir Jailani selamatkanlah saya” tatkala itu ketundukannya dan rasa pengharapannya tengah ia tujukan kemana??, untuk Allah semata??, ataukah juga untuk Abdul Qoodir jailaani??, bukankah inilah hakekat kesyirikan???

Bukankah Allah-lah yang menghilangkan kerepotan??

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kerepotan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kau (manusia) selaku khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kau mengingati(Nya). (QS An-Naml : 62)

Jawab :

Seluruh Ummat Islam berkeyakinan kalau pada hakekatnya cuma Allah lah yang menghilangkan kesusahan dan kerepotan sekecil apapun kerepotan itu ( apalagi yang besar). Seluruh Ummat Islam berkeyakinan pada hakekatnya cuma Allah yang menyembuhkan penyakit, dokter hanyalah karena dan obat pun cuma sebatas karena tidak lebih. Begitu juga dengan para Nabi dan para Wali yang di-istighostahi ( dimintai tolong ) hanyalah karena tidak lebih, sebab pada hakekatnya cuma Allah yang menhilangkan kesusahan dan kerepotan.

loading...

Adapun ayat 62 dari surat an-Naml ini, Adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya di mana kaum Musyrikun sudah menyembah selain Allah. Di sinilah Allah Memperingatkan untuk mereka supaya tidak menyembah bersama-sama Allah sesembahan yang lainnya. Dan pada ayat – ayat berikutnya orang-orang kafir itu mengingkari hari kebangkitan (yaumul ba’st) yang Adalah kekhususan ketuhanan Allah. Ayat ini membantah hipotesa ustadz Firanda cs, bahwa kaum Musyrikun itu bertauhid Rububiyah, ternyata ayat ini bahkan membantah kesimpulan ustadz Firanda diatas.

Ustadz firanda meneruskan : .

Kesepuluh : Taruhlah bahwasanya maksud seseorang tatkala berucap “Wahai Abdul Qodir Jailaani, tolonglah saya” maksudnya ialah berdoa untuk Abdul Qodir jailani supaya memberi syafaat untuknya di sisi Allah, supaya Allah menolongnya. Bukankah inilah hakekat kesyirikan kaum musyrikin Arab?? (sebagaimana sudah saya jelaskan di http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab).

Jawab :

Akibat dari kekliruan awal dalam mendefinisikan kata ” Ibadah ”, juga tindakannya menyembunyikan makna do’a` yang sejatinya dan ditambah kekeliruan dalam mengidentifikasi penyebab kemusyrikan Kafir Quresy, akhirnya kesimpulan ustadz Firanda lagi-lagi salah dan salah.
Sebab hakekat kemusyrikan kafir Quresy ialah sebab menyembah selain Allah, sementara Kaum muslimin yang bertawassul tidak ada yang menyembah sayidina Abdul Qodir dan wali-wali lainnya. Kaum muslimin cuma menjadikan mereka ( para wali) selaku perantara dan karena terkabulnya doa. Sebagaimana orang sakit yang Hadir ke RS dan meminta untuk dokter untuk mengobati , RS , dokter dan obat hanyalah perantara dan karena sembuhnya penyakit , tidak lebih dari itu.

Kalau mengambil perantara dan karena, ialah penyebab kemusyrikan kafir Quresy , maka yakinlah tidak ada kaum muslim di dunia ini, semuanya ialah kaum Musyrik (termasuk ustadz firanda ). Sebab seluruh orang pernah sakit dan kebiasaan orang sakit akan berangkat mencari wasilah ( perantara ) dan mencari karena dengan mendatangi dokter , RS dan minum obat. Cuma orang – orang bengis dan tidak mengerti agama Islam, kalau mengambil perantara dan mencari penyebab dikatakan selaku Musyrik.

Ustadz firanda meneruskan :

Kesebelas : Bukankah Rasulullah juga mencegah lafal-lafal yang mengandung kesyirikan walaupun pengucapnya tidak berkeyakinan kesyirikan??

Renungkanlah hadits-hadits berikut ini

أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ وَالْكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَيَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ

“Ada seorang yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya Anda semua berbuat kesyirikan, Anda semua berkata : “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”, dan Anda semua berkata : “Untuk Ka’bah”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka kalau mereka hendak bersumpah hendaknya mereka berkata “Untuk Robnya ka’bah”, dan mereka berkata : “Atas kehendak Allah lantas kehendakmu” (HR An-Nasaai no 3782)

Dalam hadits ini orang yahudi saja mengerti bahwasanya bersumpah atas nama selain Allah ialah kesyirikan dan mengucapkan “Atas kehendakmu dan kehendak Allah” ialah kesyirikan. Dan hal ini diiqror (diakui) oleh Nabi dan Nabi tidak membiarkan para sahabat untuk tetap mengucapkan perkataan-perkataan tersebut sebab majaz ‘aqliy, tentunya para sahabat tidak meyakini ada pencipta selain Allah.

Kesyirikan lafal-lafal tersebut diperkuat dan dipertegas oleh Nabi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَاءَ اللهُ، وَشِئْتَ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَجَعَلْتَنِي وَاللهَ عَدْلًا بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ ”

Dari Ibnu Abbaas radhiallahu ‘anhumaa ada seseorang berkata untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau menjadikan saya tandingan bagi Allah”, akan tetapi “Atas kehendak Allah saja” (HR Ahmad 3/339 no 1839, Ibnu Maajah no 2117)

Nabi juga bersabda :

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka sudah berbuat kesyirikan” (HR Ahmad 9/275 no 5375 dan Abu Dawud no 3253).

Jawab :

Dalam 2 hadits di atas (seorang yahudi, dan seseorang dalam riwayat Ibnu Abbas ) terang sekali kalau Nabi SAW  tidak menghukumi sahabat yang bersumpah dengan selain Allah selaku Musyrik. Dan sesorang dalam riwayat Ibnu Abbas pun tidak dihukumi dengan Syirik.  Nabi cuma mencegah pemanfaatan kata seperti itu, sementara ustadz Firanda dengan mudahnya menghukumi syirik. Siapatah yang lebih memahami Tauhid dan Syirik, apakah ustadz Firanda lebih  paham dibandingkan Rasulullah Saw?

Adapun hadits yang ketiga ialah larangan janji dengan selain Allah tidak ada kaitannya dengan Tawassul dan Istighotsah. Bagi yang ingin tahu problem janji dengan nama selain nama Allah silahkan berpatokan untuk kitab fiqh 4 madzhab,  sebab problem janji ialah problem fiqh, bukan problem aqidah. Begitulah Ustadz firanda salah menempatkannya ke masalah aqidah.

Ustadz firanda meneruskan :

Ke-2 belas : Tidak diragukan lagi bahwasanya para sahabat dan juga para tabi’in beberapa mengalami kondisi-kondisi yang genting, akan tetapi tidak seorangpun dari mereka yang lantas beristigotsah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jawab:

Untuk mencapai tujuannya ustadz Firanda tidak segan – segan berbohong dan menyembunyikan fakta. Rupanya ustadz Firanda telah tidak punya malu. Hadist a’ma, Hadist Ustman bin Hunaif , Hadist Bilal ibn harist al-muzani dan hadist-hadist lainnya, cuma dinilai sampah sejarah. Seluruh Ulama Madzhab 4 melaksanakan Tawassul dan Istighotsah semenjak zaman Sahabat sampai abad 7 hijriyah tidak ada yang mengingkarinya, baru pada awal abad 8 hijriyah muncul syeikh Ibnu taimiyah yang mengharamkan tawassul dan istighotsah dengan yang sudah meninggal. Muncullah istilah Istighotsah dan Tawassul syar’i dan Bid’i yang tidak pernah diajarkan oleh Rosulallah SAW.

Lalu munculah 3 syarat tawassul yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulallah SAW dan para sahabatnya. 3 syarat bathil 1. yang ditawassuli mesti masih hidup , 2. yang ditawassuli Datang / ada dihadapan yang ber tawassul 3. yang ditawassuli sanggup memenuhi permintaan yang bertawassul. Ke-3 syarat bathil inilah bahkan yang akan membawa untuk kemusyrikan, penjelasannya memerlukan artikel tersendiri.

Ustadz firanda meneruskan :

warning :

Sudah terang Abu Salafy mengumumkan bahwasanya barangsiapa yang berdoa untuk selain Allah, meminta untuk wali yang telah mati tidak akan terjerumus dalam kesyirikan selama tidak meyakini bahwa wali tersebut tidak ikut mencipta, mengatur alam semesta, dan ikut memberi rizki.

Abu salafy berkata ((Syirik ialah telah terang, ia menyekutukan Allah SWT. dalam:

A) Dzat, dengan meyakini ada tuhan slain Allah SWT.

B) Khaliqiya, dengan meyakini bahwa ada pencipta dan ada pelaku yang berbuat secara independen di alam wujud ini selain Allah SWT.

C) Rububiyah, dengan mayakini bahwa ada power selain Allah SWT yang mengatur alam semesta ini secara independen. Adapun keterlibatan selain Allah, seperti para malaikat, misalnya yang mengaturan alam ialah dibawah kendali Allah dan atas perintah dan restu-Nya….

F) Ibadah dan penyembahan, dengan menyembah dan bersujud untuk arca dan sesembahan lain selain Allah SWT, meminta darinya sesuatu dengan kayakinan bahwa ia sanggup mendatangkannya secara independen dan dengan tanpa dukungan dan izin Allah SWT.

Batasan-batasan syirik, khususnya syirik dalaam ibadah dan penyembahan ialah telah terang dalam Al Qur’an dan Sunnah. Dari ayat-ayat Al Qur’an yang mengisahkan kaum Musyrikin bisa dimengerti bahwa kendati kaum Musyrikin itu meyakini bahwa Allah lah yang mencipta langit dan bumi, pemberi rizki dan pengatur alam, akan tetapi tidak ada petunjuk bahwa mereka tidak meyakini bahwa sesembahan mereka itu; baik dari kalangan Malaikat maupun Jin mempunyai pengaruh di dalam pengaturan alam semesta ini! Dengan pengaruh di luar izin dan kontrol Allah SWT. Mereka meyakini bahwa sesembahan mereka sanggup menyembuhkan orang sakit, menolong dari musuh, menyingkap bencana dan kesusahan dll tanpa izin dan restu Allah!)) (http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/31/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-23/))))

Coba para pembaca memperhatikan kembali perkataan Abu Salafy di atas, ia amat Menegaskan kalimat “Independen”, artinya yang namanya kesyirikan ialah kalau seorang yang berdoa untuk selain Allah tersebut meyakini bahwa dzat yang ditujukan kepadanya doa tersebut berhak mengatur alam semesta secara independen dan tanpa idzin Allah. Sekarang yang jadi pertanyaan, bagaimana kalau seorang yang berdoa untuk Abdul Qodir Jailani meyakini bahwa Abdul Qodir Jailani juga ikut mengatur alam semesta tetapi dengan izin Allah, apakah ini bukan kesyirikan??!!. Dzohir dari perkataan Abu Salafy di atas ini bukanlah kesyirikan. Sebab aqidah seperti ini menimpa sebagian kaum sufiyah, yang meyakini bahwasanya para wali ikut mengatur alam semesta dengan izin Allah.

Jawab:

Sudah terang kalau ustadz Firanda sudah salah dalam mendefinisikan kata ” Ibadah ” , salah dalam mengartikan ” Do’a` “, dan salah dalam mengidentifikasi penyebab kemusyrikan Kafir Quresy. Sehingga akhirnya menyebabkan dirinyapun terjerat dalam perangkap yang sudah dibuatnya sendiri.

Kalau Ibadah didefinisikan selaku ketaatan, ketundukan dan kerendahan tidak akan ada seorang muslim pun di muka bumi ini (termasuk ustadz firanda) yang tidak musyrik, semuanya jadi musyrik.

Kalau Do’a cuma diartikan selaku ibadah, tidak ada seorang arab pun yang muslim yang tidak jadi musyrik ( termasuk guru-guru ustadz Firanda di madinah). Ingatlah ustadz,  kalau orang arab menjelaskan: “Abuka yaduuka artinya bapakmu memanggilmu. Yaduu berasal dari kata yang sama dengan kata do’a. Namun kenapa begitu terang Ustadz Firanda cuma mengartikan do’a dengan Ibadah, artinya menurut kacamata ustadz Firanda sang Bapa sudah musyrik sebab sudah berdoa` untuk anaknya.

Dan Kalau penyebab kemusyrikan Kafir Quresy ialah sebab semata-mata mengambil perantara dan karena, maka tidak akan ada orang yang bertauhid ( termsuk ustadz Firanda dan guru-gurunya). Siapatah yang tidak pernah mengambil perantara dan karena, di dunia ini wahai ustadz Firanda…?

Firanda meneruskan :
Padahal inilah hakekat kesyirikan dalam rububiyyah, bahkan lebih parah dari kesyirikan kaum muysrikin Arab. Jika kaum muysrikin Arab cuma menjadikan sesembahan mereka (baik orang sholeh maupun para malaikat) cuma selaku washitoh/perantara dan pemberi syafaat dalam memenuhi kebutuhan mereka dan mengabulkan doa mereka,

Jawab :

Sadarlah wahai ustadz Firanda, itu ialah identifikasi yang salah mengenai hal penyebab kemusyrikan kafir Quresy.

Firanda meneruskan :
maka keyakinan bahwa para wali sudah memperoleh izin dari Allah untuk mengatur alam semesta lebih parah. Sebab posisi para wali tatkala itu bukan lagi selaku perantara,

Jawab :

Kalau Allah berkehendak tidak ada yang mustahiil. Bukankah Allah sudah memberi malaikat untuk mengatur Hujan, mengatur rizqi dan mengatur selainnya? Tentu seluruh itu atas Idzin dari Allah atas Qodrat dan Irodah Allah. Para Nabi dan juga Wali tentu lebih mulia dari malaikat,  kalau Allah memberi tidak ada yang mustahil, bukankah seperti ini ustadz Firanda?

Firanda meneruskan :
akan tetapi berhak untuk mencipta dan mengatur alam semesta atas kehendak mereka sebab sudah diberi hak otonomi oleh Allah. Inilah kesyirikan yang nyata.
Yang amat disayang sebagian orang yang menjadikan rujukan Abu Salafy ternyata juga menyokong pemikiran seperti ini.

Jawab :

Bukankah orang biasa pun bahkan orang kafir pun diberikan Hak oleh Allah untuk mencipta? Tidak pernahkah ustadz Firanda menguping ada pencipta lagu, pencipta music, pencipta shoftware dan pencipta-pencipta lainnya? Apakah kalau seorang muslim mencipta lagu jadi Musyrik? Apakah kalau seorang Muslim mencipta alat perang jadi Musyrik? Apakah kalau seorang muslim mencipta alat yang belum pernah dicipta sebelumnya jadi Musyrik? Tentu semuanya itu cuma sanggup terjadi atas idzin, qudrat dan iradah Allah SWT semata. Tanpa Idzin dari Allah, tanpa qudrat dan iradah Allah ustadz Firanda pun tidak akan sanggup membantah tulisan ini. Tanpa idzin dari Allah, tanpa Qudrot dan Irodat yang Allah beri mustahil hal itu sanggup terjadi.

Ustadz firanda meneruskan :
Lihatlah perkataan Muhammad Alwi Al-Maliki –salah seorang yang membenarkan kesyirikan dengan berdalih majaz ‘aqliy-, ia berkata di kitabnya mafaahiim yajibu an tushohhah :

فَالْمُتَصَرِّفُ فِي الْكَوْنِ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلاَ يَمْلِكُ أَحَدٌ شَيْئاً إِلاَّ إِذَا مَلَّكَهُ اللهُ ذَلِكَ وَأَذِنَ لَهُ فِي التَّصَرُّفِ فِيْهِ

“Maka yang mengatur di alam semeseta ialah Allah subhaanahu wa ta’aala, dan tidak seorangpun mempunyai sesuatupun kecuali kalau Allah menjadikannya memilikinya dan mengizinkannya untuk mengaturnya”

Ia juga berkata mengenai hal keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah wafatnya Nabi :

فَإِنَّهُ حَيِّيُ الدَّارَيْنِ دَائِمُ الْعِنَايَةِ بِأُمَّتِهِ، مُتَصَرِّفٌ بِإِذْنِ اللهِ فِي شُؤُوْنِهَا خَبِيْرٌ بِأَحْوَالِهَا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia dan akhirat, selalu memperhatikan umatnya, mengatur urusan umatnya dengan izin Allah dan mengetahui kondisi umatnya”

Jawab:

Kenapa ustadz Firanda heran dengan pernyataan seperti ini? Atau ustadz Firanda pura-pura heran? Coba lihat shahih Bukhori hadist yang diriwayatkan sayidina Anas Bin Malik ra berkata : “Lewat di depan mereka ( Nabi Saw dan para sahabat ) jenazah , lalu sahabat memuji jenazah yang lewat, lalu Rosul SAW berkata : “Sudah wajib untuknya…” , lantas lewat lagi jenazah lainnya, lalu para sahabat tidak memujinya dengan kebaikan, maka Nabi pun kembali berkata: “Sudah wajib untuknya…”, maka berkatalah Sayiduna Umar ra: “Sudah wajib apa untuknya ya Rosulallah…….?” Rasulullah Sawmenjawab: “Yang ini Anda semua sudah memujinya dengan baik maka wajib untuknya memperoleh surga, dan yang ini Anda semua tidak memujinya dengan kebaikan maka sudah wajib untuknya neraka, Anda semua ialah saksi Allah dibumi.”

Lihatlah, bukankah dalam hadits tersebut surga dan neraka Nabi yang tentukan? Padahal hakekatnya Surga dan Neraka ialah Milik Allah? Hak prerogatif Allah untuk menentukan siapa masuk surga dan siapa masuk neraka sama sekali bukan milik dan hak Rasulullah, tapi sebab Allah telah memberikan idzin untuk Rasulullah sesuai qudrat dan iradah Allah maka tidak ada yang mustahil.

Lalu ada Hadits ‘ardul a’mal bahwa amal perbuatan Ummatnya disodorkan untuk Rasulullah Sawsampai akhir zaman kalau amal baik Nabi suka dan memuji Allah, kalau amal jelek Nabi mamintakan ampun untuk umatnya. Begitu juga dengan Hadits dalam shahih bukhori dari sayidina Umar ra , berkata : bersabda Rosulallah SAW, “Siapa pun dari Ummat Islam yang disaksikan 4 orang saksi (atas jenazahnya) dengan kesaksian yang baik, akan Allah masukkan dalam Surga.” Kami (para Sahabat)berkata: 3 saksi saja ya Rosulallah. Nabi bersabda “ya 3” ,  kami berkata lagi, 2 saja ya Rosul, Nabi bersabda : ya 2 saksi , dan kami ( para Sahabat) tidak meminta 1 (saksi). Dan masih beberapa hadits-hadits lainnya, di mana dhohirnya sesuai dengan perkataan Sayyid al-maliki.

Ustadz firanda meneruskan :
Seorang figur publik sufi besar yang bernama At-Tijaani memperkuat keyakinan ini. Berkata penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani (Ali Al-Faasi) :

“Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, kalau saya berkata kun (jadi) makan (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah kepada mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum yang semisal ini, maka berkata (At-Tijaani) radhiallahu ‘anhu : “Maknanya ialah Allah memberikan untuk mereka Khilaafah Al-’Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan pemberian kekuasaan secara umum, supaya mereka sanggup melaksanakan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata untuk sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” (Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62)

Hal ini juga dikatakan oleh tojoh sufi zaman kita yang bernama Habib Ali Al-Jufri, ia berkata bahwasanya wali sanggup menciptakan bayi di rahim seorang perempuan tanpa seorang ayah dengan izin Allah (silahkan lihat http://www.youtube.com/watch?v=kDPMBJ7kvfI)

Kalau ternyata keyakinan bahwasanya wali ikut mengatur alam semesta dan mengatur manusia ternyata dipercayai oleh pembesar-pembesar sufi tentunya hal ini disebarkan juga di warga, kalau perkaranya seperti ini maka sangatlah mungkin kalau orang-orang yang tatkala terkena musibah atau dalam keadaan genting lantas berkata, “Wahai Rasulullah selamatkanlah saya”, atau “Wahai Abdul Qodir Jailaani sembuhkanlah saya” mereka mengucapkan ungkapan-ungkapan istigotsah ini dengan berkeyakinan bahwasanya Rasulullah dan Abdul Qodir Jailaani sanggup langsung menolong mereka dengan idzin Allah. Sehingga tidak Penting adanya majaz ‘aqli..!!!

Jawab :

Yap, begitulah Sunnatullah. Itulah yang Allah kehendaki, telah Allah taqdirkan dan Allah tetapkan, kenapa ustadz firanda kelihatan kesal? Dan ujung-ujungnya Cuma begini? Gak ada kesimpulan yang terang dari ustadz firanda, Al-hamdulillah.

( Cape ngomentarin ujungnya Cuma begini? )

Pembaca yang budiman, demikianlah perjalanan bersama-sama Ustadz Firanda dan Ustadz Abu Salafy semoga ada manfaat dan ada faidahnya ….amien…..

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Saya lebih dahulu wafat daripada Anda semua, dan saya jadi saksi atas Anda semua, dan saya untuk Allah, sungguh saya menyaksikan telagaku sekarang, dan saya diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi, untuk Allah, saya tidak mengkhawatirkan Anda semua akan berbuat syirik sepeninggalku, tetapi yang saya khawatirkan atas Anda semua ialah Anda semua berlomba-lomba mendapatkannya ( harta dan kekayaan ) ” (HR Bukhari 6102)

Kesimpulan :

1). Vonis syirk kepada pelaku Tawassul dan Istighitsah ternyata Muncul dari:

1. Kekeliruan dalam meng-identifikasi ” penyebab kemusyrikan ” kafir Quresy.

2. Kekliruan dalam mendefinisikan kata ” Ibadah ”.

3. Kekeliruan dalam memaknai kata Do’a. Terbukti dengan kekeliruan ini ustadz Firanda pun jadi Musyrik karenanya. Vonis yang keluar dari kekeliruan ini akan memunculkan mafsadah / kerusakan besar bagi ajaran Islam di muka bumi.

2). Tawassul dan istighitsah ialah masyru` baik dengan yang masih hidup maupun dengan yang telah wafat, hukumnya jaiz utawa boleh. Dan ini telah ditunaikan semenjak ratusan abad yang lalu oleh semua Ummat Islam pemeluk 4 madzhab.

3). Hendaknya kaum Wahabi cepat membenahi kekeliruan mereka dalam meng-identifikasi kata ” Ibadah ”, dan membenahi identifikasi penyebab kemusyrikan kafir quresy. Kekeliruan ini sudah beberapa menimbulkan vonis syirik yang salah kaprah serta berlebihan beberapa korban dari kekeliruan ini.

Respon dan kesimpulan di atas disampaikan oleh: H. Ahmad Syahid,

loading...

Indonesia, 18 juli 2012.

Loading...

You might like

About the Author: admin

64 Comments

  1. Kelompok2 tersebut (wahabi) tidak akan pernah terbuka hatinya untuk kembali ke jalan yang benar. sampai pada akhirnya mereka sendiri yang mencari kebenaran-kebenaran yang selama ini dipertentangkan oleh kaum mereka (wahabi) akan tetapi mereka terlambat karena pembahasan-pembahasan materi tersebut sudah terputus.

    semoga Allah senantiasa memberikan limpahan rahmat bagi kaum2 wahabi termasuk ust. firanda

    saya ingat pesan Abah Guru Sekumpul “Apabila kita melihat cermin, pastilah kita melihat wajah kita sendiri”, seperti itu jua apabila kita berbuat baik dan buruk (termasuk mengkafirkan orang lain) akan berbalik kepada kita sendiri.

    bahkan semua Ulama-ulama yang mengamalkan seperti Maulid, Tahlil, Isra’ Miraj, Ziarah kubur, Istighosah, Shalawat mereka adalah mulia dan berkharomah, dan mereka-mereka semua adalah keturunan daripada Rasullullah. Apabila mereka salah dengan amalan-amalan tersebut, tentunya Rosulullah pasti melarang beliau karena kita yakin bahwa ulama-ulama tersebut bisa berkomunikasi langsung dengan Rosullullah

    sekedar mengingatkan bagi teman-teman apabila mau berguru khususnya ilmu Agama, silahkan dilihat terlebih dahulu sanad dan keguruannya sampai kepada Rosulullah atau tidak.

    ilmu dan pemahaman agama yang dangkal dan apalagi keturunan Rosulullah saja bukan, berani mengkafirkan orang lain lebih parahnya sesama muslim ?????!!!!!!!!!@#@@@

    wallahu’alam bishowab

    semoga berkenan

  2. Kalau minta dalam bentuk berdoa itu langsung kepada Allah. Terserah nanti. Allah akan kabulkan doa kita, apa melalui Orang, apa melalui Perusahaan, apa melalui Hewan, apa melalui Alam Semesta, itu terserah.

    Yang penting, kita minta dalam bentuk berdoa itu langsung kepada Allah, bukan minta dalam bentuk berdoa kepada Orang, bukan minta dalam bentuk berdoa kepada Perusahaan, bukan minta dalam bentuk berdoa kepada Hewan, bukan minta dalam bentuk berdoa kepada Alam Semesta.

    Berbeda kalau minta langsung. Itu kepada orang. Karena kita dapat berkomunikasi langsung, dan berhadapan langsung. Dan tetap mengharap kepada Allah, agar orang tersebut mengabulkan permintaan kita.

    Itulah Aqidah Bersih. Bukanlah jika kita minta uang kepada Isteri, dan Isteri memberi uang kepada kita, maka kita Musyrik. Itu pemikiran Tolol dan Membangun Fitnah. Subhaanallaah.

  3. Nabi Wali dan malaikat adalah makhluk , meyakini bahwa sebagian makhluk mengatur alam semesta dengan Izin Allah sama sekali bukan syirik , berbeda jika meyakini bahwa makhluk mengatur alam semesta tanpa izin Allah , sebab semua yang terjadi di alam semesta ini adalah atas kehendak qudrat dan izin Allah semata.

  4. Wah parah juga tuh Firanda :O. Tapi saya aga bingung juga, pusing sama beberapa pernyataan di atas. Pernyataan seperti para wali dan nabi mengatur alam semesta…… kok ane jadi inget ama ajaran syiah yah?? kalo malaikat mengatur alam semesta dengan izin Allah, oke…. tapi kalo para wali? Hehe maaf saya bego jadi ngga ngerti walau udah baca dari A-Z 😀

    (Saya pernah juga tuh pas awal2 baru blajar Islam, baca buku yang bilang kalo kita berkata “saya sembuh karena dokter anu” maka kita telah melakukan syirik kecil karena hanya Allah yang bisa menyembuhkan. Wah serem…… Baru nyadar jangan2 biang kerok di balik pernyataan itu adalah sama)

  5. Saya pernah dengan di RojaTV, Beliau Ust. Firanda menyerukan agar pengikutnya tidak bergeming dari jalan dakwah meny syirikkan yang menyimpang, kata mereka; Tidak mundur selangkahpun, dan tidak akan berpaling dari jalan lurus ini, kata mereka; biar saja orang kiri-kanan mengatakan mereka salah, perkataan itu harus di indahkan agar dakwah tidak terganggu, kata mereka; saya kasihan, seharusnya orang berilmu itu apalagi ilmu agama, mendengarkan dan melihat argumen orang lain sebelum menyatakan perang, seolah ini menjadi sifat mereka, sebenarnya iya syaitan telah menjadi raja Mereka atas nama Allah dan Rasul serta pemurnian Islam…. itu adalah sifat seorang pembenci dan pelaknat, dihati mereka ada noda hitam, dan memakan iman seperti ulat memakan daun, maka Allah lukiskan dalam raut muka mereka, wajah mereka suram terlebih tanda didahinya, bandingkan ulama besar sekelas al-maliki dari makkah, wajahnya sejuk dipandang dan menentramkan jiwa saat mendengar kata2 nya yang lembut karena Allah.

  6. astagfirullah hal ajim ada apa ini ustaz firanda,, ngomong komentar sana sini ngak karuan ngambil pendapat pendapat orang keren tapi hujah dari ustaz itu ko tdk masuk ya dgn perkataan dari pak abu ini udah jelas musrik bener2 musrik..orang2 mulia memiliki ke istimewaan. nabi dan rasul itu ke istimewaannya mu’zizat,,, wali itu karomat,,,,Kyai atau ustaz itu ma’unat…nah kalo dukun kan di istimewakan oleh syaitan ya itu istizrat kalau ustaz ustaz dari nhaz yang dtang fitnah besar dari situ yang bertanduk keistimewaannya istizrad.. nih pak firanda antun ngomong ampei berbudah2 gitu ampe tanganmu encokan dan ampe rusak keyboard puluhan percuma tdk ada manfaatnya.. yang namaya mendapatkan ijin Alloh ya bisa atuh.. saya bisa terbang kalau ada ijin Alloh nah kita kan khalipah di muka bumi ya bumi ditundukan oleh manusia atas ijin alloh..makanya pak firanda bisa hidup sampai sekarang ya karena ibu bapak pak piranda ngasi makan pak piranda semuanya atas ijin Alloh betul tidak…cepat cepatlah taubat bro saya kasihan sama antum pinter tapi jahiliyah gitu lhoe saya bisa menyamakan kedudukan ustad firanda dengan albert einsten…eisten itu jenius pintar tapi jahiliyah. beliau tetep gitu sampai wafatnya tetutup dari hidayah Alloh dan tdk menyambutnya.

  7. yang jelas ustadz firanda itu memang benar manhajnya cuma banyak yang pada hasad dengki biasalah apalagi para pembela syiah yg selalu mencaci maki para sahabat! apa gak takut dg azab Allah

    1. pembela sunnah wahabi mbok? Ya, sesama Kaum Salafy memang pada dengki / hasad dg Firanda, soalnya Firanda dapat dana bosnya dari Najd lebih mengalir lancar daripada yg lainnya.

      Hallo teman, Syiah itu sama saja dg Salafy Wahabi, sama2 tukang fitnah, sama2 menyesatkan ummat.

    2. mas alex mungkin saudara kita yang ngaku Ahlu Sunnah ini korban buku ” firoq as-syi`ah ( kelompok2 syi`ah ) , dimana Asy`ariyah dalam buku tersebut dimasukan dalam golongan syi`ah , merka tidak segan membuat tipu Muslihat Agar ahlu Sunnah Asy`ariyah dimata awam adalah syi`ah.

      jadi dia enggak mabok hanya memang terkena doktrin dan manipulasi alias tipu muslihat ” buku kelompok kelompok syi`ah” , yang disebar luaskan oleh kaum wahabi.

  8. Al Faqir, yg cerdas dikit ah, khan tulisannya begini yg ngaku ‘salafi’. kl kata salafinya ada tanda petik, bisa dipahami khan maksaudnya.

    1. lalu siapa dong? wahabi??

      emang yang suka ngaku salafi siapa sih??? :mrgreen:

      keknya gak ada yang ngaku2 salafi selain salafi itu sendiri, yang islamnya ‘paling murni’ itu loh….yang tauhidnya ada tiga, lain waktu bisa jadi dua sesuai kebutuhan dakwah… :mrgreen:

  9. Bagi ustadz Firanda – semoga Allah menjaganya – ini sih belum apa2 Rin. hujatan dari org yg ngaku ‘salafi’ aja beliau sudah terima, apalagi anti yg jelas berseberangan..

    1. berarti ust. firanda emang ngaco kalo sampe yang segolongan aja sampe menghujat… :mrgreen:

      orang kek gitu kok didenger…. :mrgreen:

      pantesan aja orang salaf cara mikirnya “pinter banget”, yang didengerin orang kek ust. firanda….

  10. 🙁 :mrgreen: kelihatannya jawaban yang digunakan untuk membantah ustadz firada ngawur semua. banyak yang ga nyambung. contohnya : 2. Begitu juga dengan menyembelih, saya harap ustadz Firanda tidak serampangan dengan menghukumi palakunya dengan hukum syirik. Sebab al-Qur`an pun pernah bercerita tentang Nabi Ibrohim yang menyembelih anak sapi untuk para tamunya. Apakah di mata ustadz Firanda, Nabi Ibrohim pun telah Musyrik karena menyembelih untuk tamunya? Jika ya, maka keterlaluan sekali ustadz Firanda ini. Sebab dalam kisah itu Allah pun tidak menghukumi syirik kepada Nabi Ibrohim. Begitu juga Rosulallah SAW tidak mengatakan bahwa perbuatan Nabi Ibrohim adalah perbuatan Syirik.

  11. selektif tapi sepertinya ada yang masih kurang tentang penolakan itu kalo hanya berdasarkan kemampuan pemahaman kita yang terbatas
    yang bagus ya mumpuni dengan ILMU juga donk
    Kalo ust firanda ternyata lebih benar dengan ilmunya malah kita membuat fitnah yang besar..

    1. nas abid@

      baca aja kenapa mas abid, biar antum ngerti duduk persoalannya. Jadi, jangan koment kalau baru cuma baca judulnya, tapi sebaiknya baca juga isi artikelnya biar ngerti apa yg dimaksud dalam tulisan. Nah, setelah itu baru deh silahkan koment, oke mas?

  12. @Ikuti salaf

    Didalam surat An-Nisaa (4):123: ‘Dialah satu-satunya sebagai pelindung. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah’.

    Dan surat An-Nisaa (4): 45: ‘Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu)’.

    Dalam surat Al-Ahzab (33): 17; ‘Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah’.

    Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmudzi dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulallah saw. berkata: ‘Jika engkau minta sesuatu mintalah pada Allah dan jika engkau hendak minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah seumpama manusia sedunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak akan dapat memberi pertolongan, selain apa yang telah disuratkan Allah bagimu. Dan seumpama mereka berkumpul untuk mencelakakan dirimu mereka tidak akan dapat mencelakakanmu selain dengan apa yang telah disuratkan Allah menjadi nasibmu”.

    Mari kita telaah ayat-ayat ilahi yang kelihatan berlawanan dengan ayat-ayat di atas tadi mengatakan bukan hanya Allah swt. saja yang bisa menolong hamba-Nya sebagai berikut:
    Dalam surat Al-Maidah (5):55: “Sesungguhnya penolong kamu (Waliu-kum) adalah Allah, dan Rasul-Nya dan orang orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk/rukuk (kepada Allah).”

    Dalam surat At-Tahrim (66): 4: “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitupula) Jibril dan orang orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”..

    Dalam surat Al-Maidah (5): 56: “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengkikut (agama) Allah, itulah yang pasti menang”.

    Surat An-Nisaa (4): 75: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung (waliyan) dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong (nasira) dari sisi Engkau”.

    Pada saat Allah berkata bahwa hanya Dialah satu-satunya dan cukuplah hanya Dia sebagai Wali (Penolong/Penjaga) itu maka Malaikat, Rasulallah saw. dan orang orang beriman atas izin-Nya termasuk didalamnya.

    jika Ustadz Firanda memvonis perkataan “Wahai Rasulullah, sembuhkanlah aku!!!” adalah sebuah kesyirikan. maka, perbuatan sahabat Umar bin Khattab dan Bilal bin Harits, dapat dikategorikan sebagai sebuah kesyrikan. Bahkan, jika kita membaca firman Allah swt diatas, ustadz firanda telah membuat Allah swt sendiri Musyrik karena membolehkan hambaNya menjadikan Rasulullah saw. malaikat dan orang orang beriman sebagai penolong.

  13. waduh,,, ngebantah kok kaya gini….
    benar-benar ga ilmiyah..

    saya rasa anak yang belum baligh juga bisa seperti ini yang hanya menagandal ra’yu nya.
    tolong donk bantah secara ilmiah.. atau memang ga bisa..????

    1. Kang IS,
      sebenarnya jika anda mengerti, di sini Ahmad Syahid lebih tepat jika dikatakan sebagai orang yg berusaha menjelaskan atau meluruskan pemahaman Ustadz Firanda kacau. Sangat jelas tergambar di sini bahwa Ustadz Firanda tidak mengerti apa yg dikatakannya sendiri, dan Ahmad Syahit berusaha menjelaskannya. Demikian Akhi….

      Cobalah baca yg teliti dan jangan emosi dulu biar antum mengerti duduk persoalannya. Syukron.

    2. @Ikuti salaf

      Dari Anas bin Malik ra sungguh Umar bin Khattab ra ketika sedang musim kering ia memohon turunnya hujan dengan perantara Abbas bin Abdulmuttalib ra, seraya berdoa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami (Muhammad saw) agar Kau turunkan hujan lalu Kau turunkan hujan, maka
      kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau Sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dengan derasnya. (Shahih Bukhari hadits No.954)

      Berkata Hujjatul Islam Al imam Ibn Hajar Al Asqalaniy mensyarahkan hadits ini :
      maka diambil faidah dari kejadian Abbas ra ini menjadi hal yang baik memohon syafaat pada orang – orang yang baik dan shalih, dan keluarga Nabi saw, dan pada hadits ini pula menyebutkan keutamaan Abbas ra dan keutamaan Umar ra karena rendah dirinya, dan kefahamannya akan kemuliaan Abbas ra. (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Bab Al Jum’ah No.954)

      “Masyarakat telah tertimpa bencana kekeringan di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Bilal bin Harits –salah seorang sahabat Nabi– datang ke pusara Rasul dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah (banyak) yang binasa’. Rasul saw. menemuinya di dalam mimpi dan memberitahukannya bahwa mereka akan diberi hujan (oleh Allah) ”. (Fathul Bari jilid 2 halaman 398, atau as-Sunan al-Kubra jilid 3 halaman 351)

      Apakah perbuatan diatas termasuk syrik?

  14. @admin, ustd firanda yg mana ya? tolong di perjelas sumber nya.. mngkin aja ustd firanda ga ngomong bgitu. saran saya, antum cari dulu sumber yg jelasnya. kmudian antum tabayyun langsung sama dia. jgn lngsung posting kaya gini. klo salah, malah antum yg berdosa. dia tu org berilmu akhi.. selama ana denger pengajian dia, ana ga pernah denger kaya gitu. dia jg ustad yg di percaya sama jami’ah islamiyyah madinah. faintanaza’tum fi syaiin farudduhuilallahi warrosul. wallahu a’lam

    1. Antum yg ngaku Hamba Allah, tulisan di atas adalah bagian terakhir dari tiga tulisan. coba deh baca dari bagian awal biar antum mudeng. Subernya jelas dari FirandadotCom, sebab tulisan di atas adalah tanggapan dari tulisan ustadz Firanda. kalau ustadz Firanda berilmu itu jelas saya juga tahu, semua juga tahu, tapi sayang ilmunya Ilmu Wahabisme.

    1. Siiip lah, akhirnya Mas Ahmad Syahid berhasil, horeeeee….! Mantab Mas, Saya jadi ikut senag pokoknya, nggak sia-sia kesabaran Mas admin memberikan bimbingannya soal bikin block quote!

      Saya juga mau coba semoga berhasil.
      Mas Syahid bilang:

      bismillah sahur sahur sahur…..

      bim salabim, jadilah!

    1. <blockquote>Bla.. blaaa blaaaa….blah</blockquote>

      Kode html di atas coba copy paste ke halaman komentar, kemudian tulisan “Bla.. blaaa blaaaa….blah” dihapus dan ganti dg kalimat yg mau dikutip. smoga kali ini berhasil.

  15. Bonus buat Mas Sabar dan siapa saja yang belum tahu caranya bikin tulisan tebal.

    Cara bikin tulisan tebal begini:

    <strong>……</strong>

    titik-titik tersebut gantilah dengan kalimat yang akan ditebalkan.

    Semoga bermanfaat.

      1. Sama-sama Mas Ahmad Syahid, rupanya langsung dipraktekkan bikin tulisan tebal, alhamdulillah.

        Block quote (kutipan kalimat) silahkan dipraktekkan dalam koment-koment berikutnya.

        Sekedar contoh block quote / Block kutipan kalimat:
        Mas Ahmad Sahid berkata:

        syukron Ilmunya mas admin

        1. Sama-sama Mas Ahmad Syahid, rupanya langsung dipraktekkan bikin tulisan tebal, alhamdulillah.

          betul saya langsung praktek syukron

          1. Mas Ahmad Syahid, kelihatannya belum berhasil bikin block quote, jangan ada spasi antara kode blockquote dg kalimat yg akan dikutip.

            Begini Cara bikin block quote:

            <blockquote>……….</blockquote>

            titik-titik tersebut gantilah dengan kalimat yang akan dikutip ( blocquote).

  16. Salam,
    Setelah saya baca tulisan ini, ada yang saya ingin tanyakan ke mas admin atau H. ahmad Syahid

    saya mencoba untuk membuat block quote apa yang saya ingin sampaikan, tapi terus terang nggak tau caranya. mohon mas admin bisa bantu, supaya saya juga bisa ikut diskusi

    Terima kasih

    1. Mas Sabar,

      Cara bikin block quote begini:

      <blockquote>…….</blockquote>

      Titik-titik tersebut ganti dengan kalimat yang akan diblocquote.

      Cara nulis blockquote ini juga kami peruntukkan bagi siapa saja yg belum tahu caranya. Semoga bermanfaat.

  17. Kontennya lumayan, sayangnya naruhnya di web hosting kacangan. Jadinya sering eror.
    Kalo pake WP, jangan banyak naruh plugin boss. Berat di server.
    WP dikenal sbg CMS yang kurang bersahabat.

  18. Asalamu’alaikum Admien kemaren malam saya nemu software bagus untuk membuka file ber ektensi chm maka saya share dimari, sebab siapa tau ada yg membutuhkan software ini untuk membuka file2 yg berektensi chm, berikut tutorial singkatnya.

    Cara menggunakan WinCHM ini adalah sebagai berikut :

    1. Download softwarenya terlebih dahulu
    2. Setelah di instal, masukkan serialnya agar full version
    3. Setelah windownya terbuka, pilih creat a new project ? OK
    4. Pada halaman selanjutnya, pilih create a blank project dan tentukan project titlenya sesuka hati, project folder merupakan tempat penyimpanannya, selanjutnya ? OK
    5. New Item 1 merupakan judul besar file CHM, Folder 1 dan sebagainya merupakan sub menunya. Anda bisa mencoba coba sendiri.
    6. Akan muncul permintaan untuk men save setiap perpindahan halaman. Sebagai contoh: setelah membuat judul dan isinya, bila ingin membuat sub menu akan diminta men save secara otomatis, so tinggal save aja.
    7. Bila telah selesai, untuk mengolah data tadi menjadi file CHM, kita pilih Compile ? build project. Posisinya di bagian kiri atas menu bar.
    8. Setelah muncul build project. Kita diberi 3 pilihan. Membuat HTML Help (CHM), website help, single HTML file (format PDF dan Word) kita pilih yang pertama. Ntar yang lainnya nyusul untuk jadi bahan pelajaran otodidak hehehe. Sebelumnya pastikan dicentang view…bla bla bala.., Pilih ? start, secara otomatis proses pembuatan file CHM berjalan dan langusung terbuka
    9. selesai

    Bagi yang ingin mencoba menggunakan WinCHM bisa anda download disini lengkap dengan serial number atau keygennya, so winCHMnya sudah pasti full version
    Selamat mencoba !
    Semoga bermanfaat

    Link downloadnya:

    1. Wa alaikumussalam, Mas wahyu. Makasih infonya.

      Mengenai usulan antum kemarin soal pemasangan widget share sudah kami realisasikan. Lihat di pojok kanan paling bawah, bukan berupa plugin widget share tapi cuma button-link Facebook, Twitter, RSS feed. Fungsinya sama dg plugin widget share.

  19. Asalamu’alaikum warohmatulloh wahabrokatuh buat semua all aswaja…

    Saya selalu mengikuti update2 artikel ummatipress hingga kini, dan alhamdulillah hadirnya kembali kang Ahmad Syahid juga All aswaja yg lain semakin membuat eksis ummati dimayapada menjadi penerangan bagi semua.
    Saluuuut buat semuanya dan semoga ummati kedepannya akan semakin eksis…

    Hanya sekedar saran buat admien, sebaiknya widgets share kembali dipasang untuk memudahkan visitor membagikan informasi…. ^^

    Syukron.

    1. wa alaikumussalam wr wb.

      makasih usulannya mas wahyu, sedang diusahakan untk widget share yg bukan wp-plugin, sebab kalau sejenis plugin memakan habis memory dan disk usage yg tersedia di server, akibatnya error internal 500. Seperti kemarin2 error setiap saat bikin jengkel pengunjung.

  20. ustadz Firanda kalau baca jawaban H Ahmad syahid ini gemana kira2 ya? apakah semakin kebakaran jenggot atau semakin menggosongkan jidatnya? Mudah2an dia dapat hidayah-NYA setelah mendapat penjelasan yg jelas dari Ustadz Ahmad Syahid ini.

    Barvo Ummati, semoga menjadi website besar, maju terus, terus maju dan terus berkembang menuju ke yang lebih baik lagi, amin ya raobbal alamin.

      1. mas admin, kenapa semalaman kami sekeluarga tdk bisa akses UmmatiPress? Muncul halaman Ummati tapi kosong tanpa tampilan seperti ini.

        Alhamdulillah sekarang sudah normal, smg Ummatipress tetap terus eksis membentengi faham aswaja dari rong-rongan Wahabisme, amin.

      2. alhamdulillah, ummati sudah bisa diakses lagi. Semalam mau ikut koment-koment, tapi gagal karena tampilannya blank. Sekarang sdh lupa mau koment apa.

        Oh ya, sekarang Ummati loadingnya terasa lebih ringan dan beberapa hari iti tiak ada error internal server 500 lagi sejak ganti template yg sekarang ini. Kecuali semalam tampil kosong, ada apa ya? Maaf, saya cuma kuatir kehilangan web ini selama-lamanya.

        oh ya, kami sekeluarga dan teman2 juga selalu mengikuti dakwah wesite ini, semoga tetap jaya di dunia maya. amin, amin, amin….

  21. Mas Ahmad Syahid, syukron atas penjelasannya skaligus koreksi terhadap artikel ustadz Firanda yg melenceng dari ajaran Islam.

    Semoga ini bisa menyadarkan anak2 muda yg sudah terlanjur jadi korban pemahaman Firanda yg amburadul ini. Kebiadaban Firanda dan ajaran Wahabinya telah mengangkat derajat kaum kafir musyrik Quresy menjadi BERTAUHID RUBUBIYYAH, sedangkan kaum muslimin yg bersahadat dan bersholat dihinanya sebagai Musyrikuun, na’udzu billah min Firanda wa minhum ajma’iin, amin.

    Begitulah ajaran Wahabi mati-matian mengangkat derajat kaum kafir musyrik Quresy, akan tetapi yg jelas2 sudah beriman dan menjalankan sholat didholiminya dg cara menghinanya sebagai musyrikuun.

    1. mas Prass , mas Gondrong , Mas Baihaqi , dan Ikhwan fillah semuanya , ditunggu tulisan-tulisan antum semua untuk sama2 berkontribusi meluruskan faham2 yang perlu diluruskan , dan terimakasih atas dukungan antum semuanya.

  22. emang benar-benar payah pemahaman ustdz Firanda tentang Ibadah dan kesyirikan, semoaga beliau melihat postingan ini dan mau membacanya, biar sadar atas kekeliruannya.

    Tolong teman2 Salafy atau murid2nya kasih tahulah ustadz firanda tentang koreksi atas tulisannya ini, siapa tahu beliau dapat hidayah berkat postingan ini. Hidayah hanyalah milik Allah dan akan diberikan kepada siapa saja yg dikehendaki-NYA.

    Kalau ustadz Firanda bertaubatrujuk kepada kebenaran alangkah indahnya dunia ini, akan banyak anak2 muda yg terselamatkan jika Ustadz Firanda rujuk kepada kebenaran. alhamdulillah….

  23. mas Amr dan yang lainnya , semua ini berkat Mas Admin Ummati yang pandai meng-edit dan memberi judul yang pas dan menarik , hingga menjadi hidup berkat komen antum semuanya.

  24. Pantesan wong Salafy Wahabi itu sedikit2 ngatain orang syirik, sedikit sedikit ngatain orang musyrik, lha ustadznya aja kayak gitu? Tapi kenapa kalau dirinya tidak dikatakan syirik juga, padahal kan mereka sendiri juga sudah tercakup dalam pemahaman seperti itu? Apakah karena mereka sendiri tak mengerti apa yg dipahami tsb? wallohu a’lam.

KOLOM KOMENTAR ANDA :