Abu Hurairah, Sahabat Miskin yang Senantiasa Bareng Nabi Saw

Ahmad Mustafa al-Maraghi, Ahli Tafsir Kontemporer

Abu Hurairah, Sahabat Miskin yang Senantiasa Bareng Nabi Saw


Dewasa ini, siapa yang tidak pernah menguping nama Abu Hurairah, seorang sahabat Nabi yang namanya terlalu familiar bagi kalangan para pengkaji hadis maupun di luar para pengkaji hadis. Hal tersebut dikarenakan banyaknya hadis yang diriwayatkan oleh beliau. Bahkan para ulama atau para pendakwah seringkali menyebut nama beliau dalam beberapa periwayatan suatu hadis.

Mempunyai nama komprehensif Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi Al Yamani, lahir dari kabilah bani Daus, 21 tahun sebelum hijrah tepatnya pada tahun 598 M di daerah Yaman. Beliau kerap dipanggil dengan nama Abu Hurairah (bapak kucing kecil).

Konon, beliau ialah seseorang yang terlalu menyayangi hewan, khususnya kucing. Beliau mempunyai seekor kucing kecil yang senantiasa diajaknya bermain-main pada siang hari atau waktu menggembalakan kambing-kambing milik Famili dan kerabatnya. Pada malam harinya, kucing tersebut ditempatkan di atas pohon. Oleh karenanya, beliau disebut Abu Hurairah sebab kecintaannya kepada kucing kecil.

Abu Hurairah ialah bagian sahabat Nabi yang beberapa meriwayatkan hadis. Bahkan, beliau dijuluki selaku penghafal hadis terbesar sejauh masa dengan hitungan total hafalan sebanyak 5.374 hadis. Hal tersebut, beliau peroleh bukan sebab pandai mecatat, melainkan sebab mempunyai kesanggupan menghafal yanh terlalu baik.

Masa kecil Abu Hurairah sangatlah akrab dengan kemiskinan. Beliau bukan termasuk golongan awal yang masuk Islam sebab beliau baru memeluk agama Islam pada tahun ke-7 H. Selama 4 tahun, terhitung semenjak memeluk agama Islam sampai Nabi wafat, beliau nyaris tidak pernah terpisah dari Nabi, kecuali pada waktu tidur. Beliau senantiasa mendengarkan perkataan Nabi dengan full kecintaan.

Loading...
loading...

Pasca Nabi wafat, Abu Hurairah beberapa meriwayatkan hadis. Hal tersebut, membikin beberapa sahabat yang keheranan. Di antara sahabat ada yang curiga, bahkan meragukan hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah. Lalu, Abu Hurairah menjelaskan bahwa orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu memeluk Islam sedikit menyampaikan hadis sebab mereka sibuk berdagang di pasar. Sementara itu, orang-orang Anshar juga sedikit meriwayatkan hadis sebab mereka sibuk menggarap lahan pertaniannya.

Abu Hurairah menjelaskan bahwa dirinya ialah orang miskin sehingga mempunyai beberapa waktu untuk menemani Nabi. Beliau senantiasa datang dan mengingat perkataan Nabi, sedangkan sahabat yang lain absen dari majelis Nabi atau lupa dengan perkataan Nabi sebab kesibukan masing-masing.

Beliau menyampaikan hadis sebab merasa bertanggung jawab ke agamanya, yaitu menyampaikan kebaikan dan kebenaran. Kecuali itu, beliau tidak ingin digolongkan selaku orang yang lalai menyampaikan kebenaran dan akan memperoleh hukuman karenanya.

Suatu waktu, ada sorang sahabat bernama Marwan bin Hakam yang ingin menguji kesanggupan Abu Hurairah dalam hal hafalan hadisnya. Beliau meminta Abu Hurairah untuk meriwayatkan beberapa hadis. Pada waktu yang bersamaan, Marwan meminta seseorang mecatat hadis-hadis tersebut tanpa diketahui oleh Abu Hurairah. sesudah 1 tahun berlalu, Marwan kembali meminta Abu Hurairah meriwayatkan hadis yang sama. Ternyata, tidak ada 1 kata pun dari hadis-hadis tersebut yang terlewat oleh Abu Hurairah.

Wallahu A’lam

Loading...

IslamiDotCo Shared by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :