Abah Guru Sekumpul: Jangan Hina Gus Dur Dengan Buta Mata, Nanti Anda semua Kualat!

Abah Guru Sekumpul: Jangan Hina Gus Dur Dengan Buta Mata, Nanti Kalian Kualat!

Abah Guru Sekumpul: Jangan Hina Gus Dur Dengan Buta Mata, Nanti Anda semua Kualat!

Baldatuna.com – Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami Pergantian yang cepat dan dramatis setelah Pak Harto dimakzulkan. Tidak dinyana, Gus Dur diangkat jadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur ialah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Jadi presiden tidak menghalanginya untuk terus meneruskan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama senantiasa ada dalam daftar Lawatan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jum’at, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura berkunjung Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam perjumpaan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul 1 pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu jikalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa amat suka dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan perjumpaan keduanya “tampak amat akrab dan full canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru mampu berjumpa kembali pada waktu itu.”

Menurut catatan, itu ialah perjumpaan ke-1 Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tetapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang tak sama, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali berjumpa dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Sanggup jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas telah pernah. Akan tetapi sebab Lawatan di 26 Mei 2000 ini Adalah Lawatan ilegal Gus Dur selaku presiden, maka inilah yang dicatat selaku yang ke-1 dan diliput secara luas.

Loading...
loading...

Dalam hal ini, layak saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami mengenai hal Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Telah umum diketahui bahwa sesudah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, sebab menggerus penyokong mereka, khususnya dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada warga NU.

Pada kampanye Pemilihan Umum 1999, kontestasi antara PKB dan PPP pun tidak mampu dihindari. Tidak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak seharusnya untuk Gus Dur selaku pendiri dan Ketum PKB. Fisik Gus Dur yang tidak mampu menyaksikan dan buta pun jadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya menguping hal itu. Dalam sebuah kajian agama, akhirnya beliau menjelaskan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kira-kira sedemikian: “Saya mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Saya baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Saya menguping beberapa orang meledek Gus Dur picek/buta. Saya kasih tahu Anda semua, jangan dilaksanakan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Sanggup kuwalat Anda semua nanti.) Sedemikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan warning Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Semenjak itu tidak ada lagi ejeken sedemikian kepada Gus Dur.

Cerita ini mempertunjukkan betapa Guru Sekumpul amat menghargai ulama di 1 pihak, dan menganggap Gus Dur selaku salah seorang ulama yang layak dihargai juga. Yang ke-2, Guru Sekumpul secara tidak langsung Memperingatkan bahwa tak sama boleh saja, Sebab itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya. Tetapi yang diingatkan beliau ialah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta brothership.[m]

Sumber : muslimoderat.net

Loading...

Source by Hakim Abdul

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :