Jasa Web Alhadiy
Inspirasional

6 Bulan di Malaysia, dari TKI Legal Menjadi TKI Gelap

Cerita Asal Muasal Jadi TKI di Malaysia

Saya adalah perantau yang menjadi penduduk jakarta, punya KTP Jakartas sejak tahun 1990. Pada tahun 1998, awalnya saya tidak pernah berpikir untuk bekerja di luar negeri. Tapi ketika itu Indonesia sedang dilanda krisis moneter, menyebabkan mata pikiran menjadi suram melihat masa depan kehidupan ekonomi Jakarta.

Lebih-lebih di Jakarta ketika itu telah terjadi bakar-bakaran mall dan super market, yang dipicu oleh tertembaknya Mahasiswa di Jakarta Barat. Tragedi pembakaran itu dibarengi dengan aksi penjarahan toko-toko secara serentak sepanjang hari, mulai dari Jakarta Barat sampai Jakarta Timur. Akibat dari pembakaran, di sepanjang jalan-jalan di Jakarta, banayk ruko, toko dan mal-mal yang meranggas dan menghitam hangus bagai pohon disambar petir.

Setelah itu, rasanya dunia ini seperti akan kiamat. Kehidupan ekonomi benar-benar menjadi lesu, karena perputaran roda bisnis seperti mandeg. Setidaknya inilah yang saya rasakan ketika itu, saya lihat para pengangguran mulai bermunculan. Rumah-rumah kontrakan mulai kosong ditinggal pulang kampung oleh para pengontraknya. Mereka tak mampu bayar, karena tak lagi punya penghasilan akibat perusahaan tempatnya bekerja tutup.

Nah sejak itulah saya mulai berpikir ingin bekerja di luar negeri. Di Malaysia, konon katanya para pekerja pabrik akan digaji 1.500 Ringgit, bahkan lebih sampai 2000 Ringgit. Ketika itu, 1 Ringgit nilainya sama dengan 2.700 Rupiah. Jadi kalau dihitung dalam sebulan akan dapat gaji paling sedikit 4 juta 50 ribu. Sementara gaji saya di jakarta ketika itu cuma 1 juta 500 ribu. Tentunya plus penginapan yang dekat dengan lokasi pabrik. Tentunya iming-iming gaji 4 juta plus penginapan yang layak, bagi saya itu menjadi pertimbangan yang cukup menarik, dan mampu melambungkan impian yang indah tentang masa depan yang cerah.

 

TKI di Malaysia: Illustrasi

Pengalaman Jadi TKI di Malaysia

Setelah mengurus semua persyaratannya secara resmi, mulai dari cek yang berkaitan dengan kesehatan, dan lain sebagainya, akhirnya saya bersama ratusan TKI lainnya berangkat ke Malaysia di bulan November 1998. Saya menjadi TKI legal (resmi), berangkat melalui Bandara Soekarno-Hatta di Cenkareng Jakarta Barat.

Setelah terbang beberapa jam, saya bersama teman-teman sampai di Kuala Lumpur saat maghrib menjelang Isya’. Kemudian perjalanan menuju kota Muar dilanjukan dengan bus yang disediakan oleh perusahaan yang merekrut kami sebagai pekerjanya. Setelah melalui perjalanan dengan Bus beberpa jam, kami tiba di kota Muar jam 11 malam.

Baru sampai di kota Muar hati kami sudah dibuat masygul plus mangkel karena merasa dibohongi soal tempat menginap. Pasalnya kami ternyata ditempatkan di sebuah ruko kosong, tanpa tempat tidur, tanpa bantal, apalagi selimut. Bayangan mengenai tempat tinggal yang nyaman jauh dari kenyatan. Padahal ketika itu sudah larut malam dan sudah ngantuk, ditambah kelelahan akibat perjalanan seharian mulai dari Jakarta sampai Muar. Yang ingin kami lakukan tidak ada lain kecuali tidur. Akhirnya kami tidur berhimpitan di lantai ruko seadanya.

Keesokan harinya, kira-kira jam 6 pagi, kami didatangi dua orang utusan dari perusahaan untuk memandu perjalanan kami menuju pabrik. Rupanya mereka berdua pemuda Banglades yang sudah lima tahun bekerja di pabrik, yang mana kami akan bekerja di sana juga. Dengan bahasa melayu yang lancar, salah satu dari mereka mengatakan bahwa perjalanan ke pabrik akan dilakuakn dengan jalan kaki. Setelah kami kompalain mengenai bus jemputan menuju pabrik, dia mengatakan tidak ada bus jemputan.

Kami terpaksa mengikuti pemandu jalan menuju pabrik dengan perasaan campur aduk, antara gembira dan menggerutu. Kegembiraan kami karena kami akan segera bisa bekerja, sedangkan perjalanan yang cukup jauh membuat kami bersungt-sungut dan saling menggerutu di antar kami. Ternyata jauhnya perjalanan kami untuk mencapai pabrik kurang lebih 4 kilometer. Jadi kami harus menempuh perjalanan kaki kurang lebih 8 kilometer antara berangkat kerja dan pulang ke mess penginapan. Hal yang demikian ini tak pernah terbayang akan terjadi, sungguh ini penipuan yang kelewatan menurut kami.

Ternyata letak mess penginapan terlalu jauh dari pabrik, tidak seperti yang dijanjikan saat wakil perusahaan merekrut kami di jakarta.

Pada hari-hari berikutnya yang terjadi adalah perasaan yang menjengkelkan. Selain perjalanan kaki pergi-pulang yang melelahkan, kondisi mess yang jauh dari nyaman, ada lagi satu soal yang cukup bikin marah kami. Mereka melarang kami shalat Ashar karena dilakukan saat jam kerja, hal itu dinilai merugikan perusahaan karena mengganggu produtifitas kerja. Setelah kami bersikeras tetap shalat ashar tanpa takut ancaman mereka, akhirnya mereka menyerah.

Mereka juga melarang kami melakukan shalat Jum’at, karena dengan shalat Jum’at kami masuk siang terklambat beberapa menit. Bagaimana tidak terlambat, sedangkan perjalan kaki menuju masjid jaraknya hampir 2 kilometer. Kami tetap menjalankan shalat Jum’at walaupun diancam akan dipulangkan ke Indonesia. Pada akhirnya merelka menyerah dan membiarkan kami menjalankan shalat Jum’at, walaupun terlambat masuk kerja. “Kebandelan” kami ini rupanya memberi inspirasi kepada pekerja Bangkades untuk ikut shalat, baik shalat Ashar maupun shalat Jum’at.

Anak-anak Bangla, demikian kami menyebut mereka, sudah bertahun-tahun tidak shalat karena dilarang perusahaan. Dan anak-anak Bangla tersebut tidak punya keberanian “melawan”. Anak-anak Bangla jadi berani ikut shalat, ini adalah sisi positif dari “kebandelan” kami atau mungkin ini hikmahnya.

***

Kembali ke masalah fasilitas yang menjengkelkan karena tidak sesuai yang dijanjikan, banyak dari kami yang kabur tidak tahan. Pada Minggu pertama dan Minggu-minggu berikutnya selalu ada yang menghilang, kadang dua orang, kadang sampai lima orang, dan 8 orang. Anehnya, setiap dari kami yang kabur, di antara kami tidak ada yang tahu saat kaburnya. Yang tahu tentunya di anatar mereka sendiri yang merancanakan kabur. Bisanya dilakukan malam hari, dan hanya sedikit yang dilakuan saat siang hari ketika hari libur kerja, biasanya hari Minggu. Mereka menghilang begitu saja, sedangkan kami yang tinggal tidak mengetahui ke mana mereka kabur.

Setelah sebulan bekerja, ternyata gaji yang kami terima cuma 600 Ringgit, itupun sudah ditambah uang lembur. Jadi gajio pokok yang kami terima cuma 450 Ringgit. Gaji kami jauh di bawah warga asli Malaysia yang punya gaji pokok 800 Ringgit ketika itu. Hal ini tentu semakin membuat kejengkelan kami terasa menyengat ubun-ubun. Kami benar-benar merasa dibohongi oleh penjajah. Kami marah, tapi kemarahan ini kemana akan dilampiaskan?

Kami melampiaskan kemarahan dengan cara kabur. Semakin banyak saja dari kami yang menghilang, dan tidak diketahui kemana mereka pergi. Dan pada puncaknya pernah kabur bersama-sama sebanyak 12 orang, mereka tiba-tiba tidak kelihatan batang hidungnya ketika pagi hari saat kami bersiap-siap akan berangkat keraja.

Memasuki bulan ketiga, saya pun akhirnya merencanakan aksi kabur bersama teman saya yang paling akrab. Saya mulai beli koran dan mencari lowongan kerja. Akhirnya saya dapatkan lowongan kerja yang sesuai dengan keahlian saya sebagai tukang pola busana (dress maker). Lokasinya ada di Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Lalu saya hubungi pemasang iklan via telpon, dan akhirnya kami janjian untuk bertemu, untuk berknalan. Si Pemasang iklan itu bernama Husin, dia berjanji akan menjemput saya di terminal bus Pudu Raya di Kuala Lumpur. Saya bilang padanya akan pakai kaos hitam untuk mengenali ciri-ciri saya, dan di membalas bahwa dia akan pakai kaos merah dan berkaca mata hitam.

Ya, pada hari Minggu saya berangkat sendiri tanpa teman saya, karena dia mengurngkan rencana kaburnya bersama saya. Seraya mengucap bismillah saya melangkah dengan memakai T-Sirt warna hitam agar bisa dikenali oleh Husin. saya nekad berangkat menuju terminal bus Pudu Raya untuk bertemu Husin, dan dia benar-benar menjemput saya di Pudu Raya. Saya melihat seseorang berkaca-mata hitam, memakai T-Sirt merah sedang celingukan mencari seseorang. Lalu dia menghampiri saya sambil menyebut nama saya. Saya tersenyum meng-iyakan sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman. Saya gembira dalam hati dengan ketepatan janjinya menjemput saya.

***

Begitulah saya akhirnya kabur. Dengan kaburnya saya ini, maka otomatis menjadi TKI gelap tanpa dokumen. Karena surat-surat dan pasport saya ditahan oleh Perusahaan di kota Muar. Demikian juga teman-teman saya yang kabur duluan, yang jumlahnya cukup banyak. Mereka semuanya otomatis jadi TKI gelap atau tidak resmi. Tentu saja saya tidak tahu kisah nyata seperti apa yang dialami mereka. Tetapi yang saya alami sendiri setelah kabur, walaupun bekerja sesuai keahlian, hati malah menjadi tersiksa karena mersa tidak aman, takut ditangkap polisi kerajaan Malaysia.

Bagaimana kisah saya setelah kabur dan mejadi TKI gelap di Petaling jaya, Kuala Lumpur? Dan bagaimana lika-liku kisah saya sampai akhirnya bisa lolos pulang ke Indonesia dengan selamat? Insyaallah akan saya kisahkan dalam episode berikutnya….

 

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker