5 Orang Biasa ini Su’ul Adab Kritik Ulama yang Ilmunya Jauh di Atasnya


5 Orang Biasa ini Su’ul Adab Kritik Ulama yang Ilmunya Jauh di Atasnya. Media sosial dewasa ini masuk Kemajuan yang di luar perkiraan. Sampai-tiba muncul pendatang baru yang seakan Mempublikasikan ke publik bahwa merekalah mufti baru.Gara-gara followernya beberapa, orang-orang itu Mendadak kepedean menilai apa pun, yang kadang tidak sesuai back-ground dan kemampuan keilmuannya.

Mufti-mufti medsos ini merasapunya kewenangan mencap apa pun yang jadi kecenderungannya selaku baik, lurus, sunah, syari, atau islami. Sebaliknya, hal-hal yang tidak sesuai kecenderungannya dicapnya selaku tidak baik, sesat, bidah, atau bahkan kafir.

Padahal untuk berfatwa, mereka seharusnya mesti mengukur diri. Telah cukupkah ilmunya, pahamkah metodologinya, bagaimana dampak dari fatwanya. Tetapi sebab terlanjur kepedean, ya akhirnya mereka hantam kromo saja seluruh orang, termasuk orang-orang yang secara keilmuan jauh di atasnya.

Ini soal akhlak dalam menyampaikan kritik

Ini bukan soal benar atau salah orang yang dikritiknya, tapi soal akhlak dalam menyampaikan kritik. Mengkritik ulama di ruang terbuka juga tidak etis, apalagi jika para pengkritik itu secara keilmuan jauh di bawah yang dikritik. Dan, tragisnya lagi, pemahamannya soal Islam masih sepotong-sepotong, dari terjemahan pula, atau dari katanya.

Jika mau ujur, mereka yang teriak-teriak islami atau syari di media sosial itu, sebagian namanya saja tidak islami, dan bahkan tidak syari. Namanya sesuai sunnah pun tidak. Padahal, Nabi senantiasa menganjurkan untuk mengganti nama yang tidak punya arti baik dan nama yang tidak mencirikan identitas Islamnya. Inilah paradoksnya.

Siapa mufti-mufti kepedean dimedia sosial itu? Ini 5 orang yang selama ini mengkritik dan menghantam orang-orang yang ilmunya di atasnya:

1. Abu Aqila Kritik Grand Syaikh Azhar

Belum lama ini Indonesia kehadiran tamu istimewa. Grand Syekh Al Azhar (GSA) berjumpa dengan Presiden, tokoh-tokoh penting di Indonesia, juga mengunjungi ke beberapa tempat penting, khususnya lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

Akan tetapi, ternyata Lawatan bersejarah itu tidak seluruh orang suka. Ada saja yang nyinyir dan Memberi komentar sinis atas Lawatan itu. Salah satunya ialah Abu Aqila. Praktisi pengobatan herbal ini mempersoalkan urgensi Lawatan GSA. Yang fatal lagi dia termasuk orang ke-1 di Indonesia yang menyebut GSA selaku Paus Al Azhar.

Apalagi kritiknya itu cuma didasarkan pada sebuah pemberitaan dari bagian media di Mesir, yang belum tentu benarnya. Tanpa tabayun dan tanpa mencari info lebih jauh, Abu Aqila dengan seenaknya menyebarkan dan menyebut GSA selaku Paus, termasuk lantas foto GSAberciuman dengan bagian Paus. Padahal, foto itu hasil editan Photoshop untuk kepentingan kampanye bagian produk.

Sepertinya pengetahuannya yang dangkal mengenai hal siapa sosok GSA, membikin Abu Aqila sembrono dan gegabah mengkritik GSA. Inilah yang membikin Forum Alumni Al Azhar Mesir (FAMI) mempolisikannya.

2. Jonru Kritik M. Quraish Shihab

Jonru mulai dikenal publik sesudah rutin mengkritik Jokowi di era kampanye Pemilihan presiden 2014. Ia yang waktu Pemilihan presiden menyokong kandidat lain, terus menguliti hal-hal yang sering membikin panas penyokong Jokowi. Saking panasnya, penyokong Joko Widodo memunculkan kata barujonrudanmemberi maknafitnah.

Di luar soal politik Pemilihan presiden, ternyata Jonru juga suka mengkritik dan mengomentari orang-orang yang diketahui menyokong Joko Widodo, termasuk ulama. Bagian yang dihantam oleh Jonru ialah M. Quraish Shihab.

Publik sempat dibuat heboh gara-gara Jonru memposting video acara Pak Quraish di bagian televisi swasta nasional.Hal yang sempat membikin heboh ialah saat komentar Pak Quraish terkait Nabi tidak dijamin masuk surga.

Jonru menggiring opini seakan-akan Pak Quraish menganggap Nabi tidak masuk surga. Padahal, bila memperhatikan rekaman acara itu secara utuh, apa yang dituduhkan itu tidak sesuaidengan apa yang dimaksudkan Pak Quraish dalam pendapatnya.

Jonru juga kerap menyebut Pak Quraish selaku figur publik Syiah. Pak Quraish juga dinilai sesat gara-gara membolehkan putrinya yang penyiar di salah stasiun televisi untuk tidak berjilbab.

Terlepas dari substansi kritiknya, tapi yang Penting diperhatikan soal kemampuan Jonru mengkritik M. Quraish Shihab. Bila memperhatikan riwayat hidup dan karya juga kontribusinya kepada ummat Islam dari ke-2 orang ini, kita akan tahu ada pungguk mengkritik bulan.

3. Firanda Kritik Sayyid Muhammad

Firanda Andirja salah satuustad yang ditokohkan di kalangan salafi-wahabi. Ia di antara sedikit ustad salafi yang konsisten menyebarkan paham salafi melalui bermacam media.

Loading...
loading...

Dari video dan tulisan yang beredar dari Firanda, tampak bahwa yang bersangkutan mempunyai pengetahuan yang cukup mumpuni. Penguasaan kepada dalilnya kuat. Cara mengelola argumennya juga sistematis dan tidak terkesan emosional. Makanya, ia juga kerap terlibat dalam aktifitas debat dengan kalangan NU untuk membicarakan isu-isu tertentu.

Firanda Andirja

Firanda Andirja

Cuma pada aspek-aspek tertentu, sikap Firanda agak keterlaluan dan cenderungcopy-pastedari pandangan tokoh-tokoh salafi di Timur Tengah. Bagian yang amat disayangkan saat Firanda punya nyali menyebut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki syirik.

Dari video yang beredar, yang Adalah rekaman bagian acara di televisi kubu salafi-wahabi, Firanda dengan bersemangat menyalahkan pandangan Sayyid Muhammad terkait hak otonomi Nabi Muhammad dalam mengatur ummat.

Masalah kritik kubu salafi-wahabi kepada Sayyid Muhammad ini telah sering kita dengar di Arab Saudi. Akan tetapi, yang mengkritik ialah orang-orang yang pada level yang sama dalam keilmuan dan Sumbangsih kepada ummat.

Jika Firanda yang mengkritik Sayyid Muhammad, kok ya mesti mesti beberapa bercermin dulu. Apalagi sampai menyebut Sayyid Muhammad syirik. Ini tudingan berbahaya yang dialamatkan pada ulama besar yang dihormati tidak cuma di Indonesia, tapi jufa di dunia internasional.

Yang Penting diketahui, perbedaan pandangan dalam hal-hal tertentu telah lama terjadi di kalangan ulama. Akan tetapi, para ulama senantiasa berhati-hati dalam menyalahkan pandangan ulama lainnya, apalagi sampai menganggap sesat, kafir, atau bahkan syirik. Sikap kehati-hatian itu sepertinya tidak dipunyai Firanda.

4. Felix Siauw Kritik Ulama Pembela Nasionalisme

Felix Siauw juga terbilang sering mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial melalui akun twitternya. Fatwa terakhir yang sempat buat hebohadalah terkait perempuan karir

sebelum ini, Felix juga membikin heboh gara-gara menyebut tidak ada dalil nasionalisme. Apa yang dikemukakan Felix ini seperti menyalahkan seluruh anjuran nasionalisme dan cinta tanah air dari para ulama pendahulu, yang berperan aktif dalam kemerdekaan NKRI, mulai dari K.H. Mas Mansur, K.H. Hasyim Asyari, K.H. Ahmad Dahlan, dan yang lain.

Felix Siauw

Felix Siauw

Bantahan terkait pandangan Felix ini pun telah ditunaikan oleh beberapa pihak.Harusnya bantahan-bantahan itu membikin Felix muhasabah bahwa fatwa-fatwa-nya selama ini tidak pas dan cenderung sesat.

Apalagi Felix yang dikenal rajin mempopulerkan istilah syari untuk hijab ini, juga Penting mengukur diri. Namanya pun ternyata juga tidak syari dan cenderungtasyabbuh.Setidaknya ia Penting muhasabah diri, sebelum menilai orang lain.

5. Desastian Voa-Islam kritik Ali Mustafa Yaqub

Nama Desastian juga tidak dikenal publik. Entah ini nama asli atau nama palsu, yang terang dia bagian penulissitus voa-islam. Ada tulisannya yang menyebut Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub selaku ulama remang-remang. Tentu ini konotasi yang buruk dan tidak memperlihatkan akhlak yang baik kepada ulama. Apalagi posisi Pak Kyai Ali waktu itu selaku imam besar Masjid Istiqlal.

KH Ali Mustafa Yaqub

KH Ali Mustafa Yaqub

Ini seluruh bukan artinya tidak boleh mengkritik ulama. Ini juga bukan soal tidak boleh menjelaskan yang benar meski pahit. Tetapi ini soal etika dan akhlak dalam mengkritik. Bukankah Nabi juga mencegah mengkritik pemimpin (termasuk ulama di dalamnya) di depan umum?!

Dan, yang tidak kalah perlunya, mereka-mereka ini Penting belajar mengukur diri, sedalam apa ilmunya, seberapa besar kontribusinya, dan benarkah seluruh itu dilandasi oleh antusias saling berpesan kebaikan atau ada motif lain?!

Loading...

Oleh:Moch. Syarif Hidayatullah, Pendiri DatDut.Com via datdut.com ….

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :