3 Karakter Kepemimpinan Rasulullah

Kisah Ini Akan Membuatmu Kian Cinta kepada Rasulullah

3 Karakter Kepemimpinan Rasulullah

Sesuai konten bagian buku terakhir karya ayahanda kami, tema pertama yang tertulis dalam buku tersebut ialah “The Prophet Muhammad ﷺ as A Model Leader” (Nabi Muhammad ﷺ selaku contoh seorang pemimpin). Mengkaji tema pertama dalam buku ini, seakan memperoleh siraman kesejukan di tengah dahaga masa penantian bakal seorang pemimpin yang full keteladanan. Dari tema ini ada sejumlah point penting yang patut digarisbawahi.

Ada perbedaan istilah plurality of religions (pluralitas agama) dan religious pluralism (pluralisme agama). Islam mengakui adanya pluralitas agama, tetapi Nggak mengakui pluralisme agama.
Pertama, a leader obviously must prioritize the needs of his society over his own, seorang pemimpin hendaknya mendahulukan kepentingan masyarakatnya diatas kepentingan pribadinya. Nabi Muhammad sudah mencontohkan poin pertama ini ketika beliau melaksanakan hijrah ke Madinah berbarengan Abu Bakar ra. dan dua orang lainnya, yaitu Amir bin Fuhairah (budak Abu Bakar) dan Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi.

Ketika di tengah travelling ke Madinah, beliau berhenti di tenda seorang wanita yang bernama Ummu Ma’bad al-Khuzaiyyah, dia ialah seorang rakyat kecil. Ummu Ma’bad Nggak mempunyai sedikitpun makanan ataupun minuman. Sehingga Nggak bias menjamu tamunya. Lantas Nabi Saw menyaksikan seekor kambing betina di samping tenda Ummu Ma’bad, dan meminta izin terhadap Ummu Ma’bad demi memerah susu kambing tersebut.Ummu Ma’bad menyampaikan terhadap Nabi bahwa kambing betina tersbut telah tua dan susah demi mencari makan, sehingga Nggak mungkin sanggup menghasilkan susu. Tapi, Ummu Ma’bad tetap mengizinkan Nabi demi memerahnya.

Sebelum memerah, Nabi berdoa اللهم بارك لها في شاتها. Lantas, kambing betina tersebut menghasilkan tidak sedikit air susu. Di ketika seperti itu, Nabi Muhammad mempersilahkan Abu Bakar dan dua orang lainnya demi minum terlebih dahulu.

Dan Nabi Muhammad ialah orang terakhir yang minum susu hasil perahannya, lalu Nabi bersabda سيد القوم خادمهم وساقيهم آخرهم شربا. Hadits ini sebagai dalil bahwa keputusan strategi seorang pemimpin wajib berorientasi pada kepentingan rakyatnya.

Kedua, Guarding all elements. Mengayomi seluruhnya elemen. Sebagaimana yang disampaikan oleh kiai kami di berbagai forum, bahwa ketika itu Nabi Nggak cuma sebagai pemimpin bagi orang Islam saja, tapi juga pemimpin bagi seluruh orang di Jazira Arab, termasuk di dalamnya ialah golongan Kristen, yahudi, majusi, dan Pagan.

Mereka seluruhnya sanggup hidup berdampingan dibawah komando pemimpin yang bijaksana. Mereka dilindungi oleh Nabi, bahkan Nabi menjelaskan bahwa siapa yang menghabisi kafir yang terikat perjanjian damai (kafir mu’ahad), maka ia Nggak bakal mencium wangi surga dari jarak 40 tahun travelling.

Tapi, wajib dipahami bahwa Islam mengakui keberadaan agama lain bukan artinya mengakui kebenaran agama lain tersebut. Dalam hal ini, kiai kami menyebutkan perbedaan istilah plurality of religions (pluralitas agama) dan religious pluralism (pluralisme agama). Islam mengakui adanya pluralitas agama, tetapi Nggak mengakui pluralisme agama.

Ketiga, Non-Discriminative Leadership dan The King of the peasent. Nabi menganggap sama antara rakyat kecil ataupun orang kaya. Tiap-tiap memperoleh undangan dari rakyat kecil, nabi tetap datang demi menghormatinya.

3 poin tersebut semoga sebagai pelajaran bagi kita seluruhnya ketika nanti kita sebagai pemimpin, baik pemimpin bagi diri kita sendiri, keluarga, atau yang lebih luas lagi. []

Izzah Farhatin Ilmi,  PP Darussunnah. Aktif juga di lembaga pemeriksaan hadis El Bukhori Institute.

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.