3 Argumentasi Kenapa Kita Mudah Mengatasnamakan Agama atas Segala Persoalan

3 Argumentasi Kenapa Kita Mudah Mengatasnamakan Agama atas Segala Persoalan


Akhir-akhir ini kita seringkali menemui fenomena mudahnya orang atau kubu mengatasnamakan agama (termasuk Allah dan ulama). Apalagi kalau dikaitkan politik. Misalkan, mengkaitkan keadaan politik di Indonesia seperti keadaan saat Nabi Muhammad SAW melawan orang kafir, merasa terdhalimi dan membela diri dengan nama agama, dan sikap-sikap lainnya. Padahal kondisi-kondisi ini seringkali ndak sepenuhnya benar. Misalkan, saat mereka mengatasnamakan ulama untuk merumuskan rekomendasi calon presiden dan cawapres, sesungguhnya ulama yang dimaksudkan ialah ulama versi mereka dan bukan ulama secara keseluruhan. Contoh lain, mereka menganggap bahwa Allah berada di pihak mereka untuk membantu mengalahkan pihak-pihak yang mereka lawan.

Waktu ini, agama memang jadi bahan yang mudah untuk membikin orang terpengaruh. Ditambah lagi dengan keadaan waktu ini. Misalkan, banyaknya orang awam agama tapi antusias ingin mengetahui agama dan di sisi lain ndak ingin repot belajar agama dengan cara yang benar dan tepat (bénér dan pénér). Selain itu, juga beberapa generasi post-milenial yang amat tergantung dengan kecanggihan teknologi. Keadaan yang seperti ini membikin pihak-pihak yang mudah mengatasnamakan agama mudah “mencari kawan” dengan memanfaatkan teknologi. Kalau fenomena ini terus berlangsung tanpa kendali, maka akan rentan penyalahgunaan agama secara berlanjut sehingga potensial memunculkan benturan antar golongan. Pada akhirnya, akan mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara.

Pada dasarnya, antusias keberagamaan yang tinggi dan menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan dalam diri lantas mengaktualisasikannya pada kehidupan sehari-hari ialah sikap yang patut untuk diapresiasi dan didukung. Akan tetapi, antusias keberagamaan ini juga hendaknya diikuti dengan perilaku mempelajari agama dengan benar. Di sisi lain, juga berhati-hati dalam mempergunakan agama supaya ndak memberikan kesan agama jadi alat untuk mencapai kepentingan pribadi dan golongan.

Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang atau kubu mudah mengatasnamakan agama dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam bidang politik.

Pertama, terkait dengan keinginan Islam kembali berjaya sesudah sekian lamanya Islam ndak memegang kendali peradaban. Pada zaman dahulu Islam pernah memegang kendali peradaban dunia. Selain itu, masifnya perkembangan pemeluk Islam, Islam sanggup jadi spirit dan antusias dalam membangun kehidupan ke arah yang lebih baik. Keadaan ini ditandai dengan meluasnya wilayah yang di bawah kepemimpinan Islam. Selain itu, dalam bidang ilmu pengetahuan, beberapa cendekiawan muslim yang melaksanakan beberapa penemuan dan mecatat berbagai buku yang lantas jadi rujukan perkembangan keilmuan pada periode berikutnya.

Akan tetapi, Islam mengalami kemunduran yang lantas kendali peradaban berpindah ke Eropa (dan Amerika – pada perjalanannya Amerika mempunyai pola pikir dan budaya yang hampir sama dengan Eropa) sampai waktu ini. Hegemoni Barat ini kian menancapkan kukunya sehingga menyebabkan kapitalisme, liberalisme, dan paham lainnya yang melahirkan berbagai permasalahan, seperti ketimpangan sosial. Pihak Islam seakan ndak mempunyai power untuk menentukan peradaban.

Maka dari itu, muncul rasa frustasi dengan segala kegagalan sistem dan paham produk hegemoni Barat dalam membangun kehidupan. Rasa frustasi ini lantas diikuti dengan keinginan merasakan kejayaan Islam yang pernah terjadi. Pada akhirnya, muncul antusias (mudah) membawa Islam ke berbagai ranah (terutama politik). Pada dasarnya, mempergunakan agama Islam untuk dasar berpijak dan bertindak ndak jadi suatu problem. Akan tetapi, yang patut diwaspadai ialah mengenai cara mempergunakan Islam tersebut dan untuk target apa sikap tersebut mesti ditempuh.

Kedua, perasaan terdhalimi yang diinternalisasikan ke dalam diri dan lantas mengkaitkan identitas diri dengan agama. Perasaan frustasi yang muncul akibat persaingan hidup yang kian ketat dan tingkat kerepotan hidup kian tinggi akibat dampak dari tekanan dan hegemoni Barat (baik secara langsung maupun ndak langsung), akan berkemungkinan besar memunculkan perasaan teraniaya (terdhalimi). Di sisi lain, terpuruknya perkembangan peradaban Islam di berbagai negara akibat campur tangan Barat juga turut membentuk perasaan teraniaya akibat persamaan identitas, yaitu Islam.

Keadaan ini rentan mengakibatkan cara pandang dan cara pikir yang overgeneralisasi (kecenderungan menyamaratakan keadaan keterpurukan Islam di Timur Tengah dengan di Indonesia – Kalau memang Islam di Timur Tengah dan di Indonesia dinilai terpuruk dan stagnan maka kategori stagnansinya ini yang tak sama sebab di Timur Tengah terjadi dalam keadaan konflik sedangkan Indonesia bukan merupakan negara konflik atau perang). Maka, hal yang terjadi lantas ialah mempergunakan agama Islam untuk melaksanakan perlawanan, terlepas bagaimana keadaan daerah mereka menggelar perlawanan.

Ketiga, motif mencari penyokong dan melegalkan keinginannya. Untuk dapat mempengaruhi orang lain untuk berada di pihaknya, maka mengatasnamakan agama (Islam) jadi bagian teknik yang dinilai sanggup. Terlebih lagi, agama merupakan suatu hal yang sakral dan bersifat dogmatis dan kalau dipakai akan sanggup mempengaruhi beberapa orang dengan berbagai back-ground sosial. Kalau ada beberapa pihak yang berada dalam satu barisan dengannya, maka akan mudah untuk melaksanakan gerakan perlawanan, (sekali lagi) terlepas dari bagaimana keadaan tempat menggelar perlawanan itu berada.

Kalau dalam keadaan yang sungguh-sungguh terjadi konflik, maka pengatasnamaan Islam barangkali ndak jadi problem. Akan tetapi, pengatasnamaan Islam tersebut tetap dalam koridor bukan membenturkan golongan satu dengan golongan lain. Misalkan, untuk membangkitkan antusias melawan penjajahan maka sanggup ditanamkan nilai-nilai Islam yang mengajarkan mengenai hal pembelaan kepada eksistensi harga diri dan kemerdekaan diri, sehingga siapapun yang menjajah (ndak peduli agamanya) maka antusias perlawanan tersebut tetap ada. Motif mencari penyokong ini lantas mudah tercapai sebab beberapa masarakat awam agama tapi mempunyai antusias beragama yang tinggi.

Dengan mengetahui berbagai faktor tersebut, maka kita diinginkan dapat meminimalisirnya sehingga fenomena tersebut dapat ditekan. Kalau memang ingin Islam memegang kendali peradaban kembali, maka kuncinya ialah perkembangan pengetahuan atas dasar nilai-nilai Islam.

Kalau memang suatu sistem dinilai kurang dapat menuntaskan problematika masa Saat ini, maka sanggup jadi pelaksananya perlu diperbaiki sehingga membangun karakter penting untuk dikedepankan. Kalau suatu pemerintahan dinilai kurang mempunyai kinerja yang baik, maka dapat mengambil peran untuk membenahi keadaan tersebut tanpa mesti membenturkan pemerintahan (terlebih sistem dan bentuk negara) dengan agama. Semoga.

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :