Berita Indonesia

Dolar AS Bisa 2.000 Rupiah Kalau RI Ambil Alih Freeport

Rizal Ramli: Dolar AS Bisa 2.000 Rupiah Kalau RI Ambil Alih Tambang Freeport

Semua kebangkrutan Indonesia karena korupsi jadi budaya di Indonesia di masa lalu, dari pejabat tingkat bawah sampai pejabat tingkat atas. Rizal Ramli mengungkapkan, kontrak karya yang merugikan pemerintah saat ini tak lepas dari perilaku korup oleh pejabat di masa lalu.

 

Islam-Institute, Jakarta – PT Freeport Indonesia hingga saat ini belum menawarkan divestasi sahamnya pada pemerintah pusat. Selain itu, kewajiban Freeport lainnya yakni penambahan jumlah royalti, pembangunan smelter, penanganan limbah, dan memperbaiki lingkungan yang rusak akibat dampak tambang emasnya dianggap belum dipenuhi.

Menteri Koordonator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli mengungkapkan, jika kelima poin tersebut tak dipenuhi, sebaiknya Freeport angkat kaki dari Indonesia.

Menurut Rizal Ramli, justru kepergian Freeport akan jadi ‘durian runtuh’ bagi pemerintah Indonesia.

“Kalau seandainya Freeport ngotot nggak mau penuhi, kembalikan kontrak karyanya. Karena Indonesia akan dapat duren runtuh, kenapa? Karna cadangan emas di Freeport itu,” jelas Rizal Ramli ketika ditemui di Hotel JW Luansa, Kuningan, Jakarta, Rabu (18/11/2015).

Rizal Ramli menegaskan, ‘durian runtuh’ tersebut bahkan bisa menyulap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini menjadi hanya Rp 2.000.

“Saudara kebayang nggak, cadangan devisa emas Bank Indonesia (BI) hanya 100 ribu kg, China hanya beberapa juta kg, Freeport cadangan emasnya itu 16 juta kg. Bayangin setengahnya saja kita masukin ke dalam cadangan devisa BI, Rupiah menguat ke berapa? Bisa menguat ke Rp 2.000 per dolar,” ujarnya.

Semua kebangkrutan Indonesia karena korupsi jadi budaya di Indonesia di masa lalu, dari pejabat tingkat bawah sampai pejabat tingkat atas. Rizal Ramli mengungkapkan, kontrak karya yang merugikan pemerintah saat ini tak lepas dari perilaku korup oleh pejabat di masa lalu.

“Selama ini bangsa kita dirugikan. Bayar royalti kecil, limbah dibuang seenaknya, tidak ada divestasi. Itu bisa terjadi karena pejabat-pejabat Indonesia yang elitnya itu gampang disogok, gampang dilobi, jadi juru bicara kepentingan asing,” pungkas Rizal Ramli.

sumber: detik.com

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *